Kepuasan Publik terhadap Trump Anjlok ke Level Terendah
Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merosot ke titik terendah sepanjang masa jabatannya.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kekhawatiran masyarakat terhadap perang berkepanjangan dengan Iran.
Temuan itu berdasarkan survei Reuters/Ipsos yang dilakukan secara daring terhadap 1.166 responden dewasa di seluruh AS.
Adapun survei tersebut memiliki margin of error sebesar 3 persen.
Baca Juga: 40 Warga Gaza Diminta Menteri Israel Dibunuh Tiap Malam
Approval Rating Trump Turun
Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Trump hanya mencapai 33 persen.
Sementara itu, sebanyak 64 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump. Angka tersebut turun dari 35 persen dalam jajak pendapat pada awal Agustus 2026.
Capaian terbaru itu juga menyamai rekor terendah Trump pada masa jabatan pertamanya. Rekor tersebut tercatat pada Desember 2017.
Padahal, ketika kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump mendapat dukungan dari hampir separuh masyarakat AS.
Popularitas Trump kemudian merosot tajam sepanjang 2026. Salah satu penyebabnya adalah keputusan Trump memerintahkan serangan militer terhadap Iran bersama sekutunya, Israel.
Saat berkampanye, Trump berjanji menekan inflasi dan menghindari perang berkepanjangan.
Dia juga memperkirakan konflik dengan Iran hanya berlangsung selama beberapa minggu.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan situasi berbeda.
Iran masih bertahan dalam konflik tersebut. Teheran juga memblokade jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Gangguan di jalur strategis tersebut berdampak terhadap sekitar seperlima pasokan minyak global.
Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga BBM di AS, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (18/8/2026).
Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan kekhawatiran masyarakat terhadap lamanya konflik.
Sebanyak 80 persen responden memperkirakan keterlibatan militer AS di Iran akan berlangsung lama.
Hanya 16 persen yang meyakini konflik tersebut akan berakhir dalam beberapa minggu.
Baca Juga: Inggris Diperingatkan Rusia soal Dukungan Senjata ke Ukraina, Ada Ancaman Apa?
Partai Republik Mulai Tertekan Jelang Pemilu Sela
Penurunan popularitas Trump juga menjadi perhatian Partai Republik.
Partai tersebut tengah berupaya mempertahankan mayoritas tipis di DPR AS dan Senat dalam pemilu sela yang dijadwalkan pada 3 November 2026.
Adapan pemilu (midterm election) merupakan pemilihan umum di AS yang di gelar di tengah masa jabatan presiden, yaitu setiap 2 tahun sekal, untuk memilih anggota DPR dan sebagian Senat.i
Diketahui, untuk pertama kalinya dalam sekitar satu dekade, masyarakat AS lebih percaya kepada Partai Demokrat dalam mengelola perekonomian.
Sebanyak 38 persen responden menilai Demokrat lebih mampu menangani ekonomi. Sementara itu, 35 persen memilih Partai Republik.
Demokrat juga unggul dalam isu biaya hidup. Sementara itu, keunggulan tradisional Partai Republik dalam isu imigrasi semakin menipis.
Penurunan jumlah penyeberangan perbatasan dan kebijakan penindakan tegas Trump sebelumnya mendapat dukungan.
Namun, dukungan tersebut mulai berkurang setelah terjadi bentrokan mematikan dan meningkatnya jumlah tahanan imigran, termasuk anak-anak.
Saat ini, 40 persen pemilih terdaftar menilai Partai Republik memiliki kebijakan imigrasi yang lebih baik. Sebanyak 38 persen lainnya memilih Demokrat.
Selisih dua persen tersebut menjadi yang terendah selama masa jabatan Trump.
Angka itu merosot jauh dibandingkan Januari 2025. Saat itu, Partai Republik masih unggul 26 persen dalam isu imigrasi.
Di tengah tekanan tersebut, Trump sebelumnya membela kenaikan harga BBM di AS.
Saat berbicara di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), Trump menyebut dampak ekonomi tersebut sebagai harga yang sepadan demi keamanan nasional.
Dia mengatakan masyarakat AS perlu membayar sedikit lebih mahal untuk bensin demi memastikan negara musuh tidak memiliki senjata nuklir.
