Trump Tolak Proposal Iran, IRGC Kian Keras dan Enggan Berdiplomasi
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimulai sejak April 2026 kini dinilai semakin rapuh di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian terbaru Iran menjadi titik balik yang memperbesar risiko konflik lanjutan.
Proposal 10 poin yang dikirim melalui jalur belakang di Pakistan pada 1 Mei 2026 itu mencakup moratorium pengayaan uranium selama 10 tahun, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga tuntutan reparasi perang.
Trump menilai para negosiator Iran tidak memiliki otoritas tunggal dalam mengambil keputusan, seiring dinamika internal kekuasaan di Teheran.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Kapal Tanker Diserang di UEA
IRGC Kuasai Arah Kebijakan Iran
Perubahan kepemimpinan di Iran setelah wafatnya Ali Khamenei turut mempengaruhi arah kebijakan negara tersebut.
Meski Mojtaba Khamenei secara resmi menjabat, laporan menunjukkan peran efektif justru dipegang oleh kubu militer garis keras.
Sosok seperti Ahmad Vahidi disebut menjadi arsitek utama strategi Iran, terutama dalam menghadapi tekanan dari AS.
Di bawah pengaruh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Iran dinilai lebih memilih strategi perlawanan jangka panjang dibandingkan jalur diplomasi.
Kondisi ini membuat faksi moderat, seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, berada dalam posisi terjepit.
IRGC bahkan dinilai lebih memilih menghadapi tekanan ekonomi berat dibandingkan kehilangan kendali atas Selat Hormuz.
Dukungan Rusia dan Sikap Ambigu China
Posisi Iran semakin kuat dengan dukungan strategis dari Rusia.
Kehadiran Kepala Intelijen Militer Rusia Igor Kostyukov dalam pertemuan bilateral menunjukkan adanya integrasi intelijen yang lebih dalam antara kedua negara.
Dukungan ini mencakup data satelit hingga intelijen sinyal untuk membantu Iran menghadapi blokade laut AS.
Di sisi lain, China mengambil posisi lebih berhati-hati.
Sebagai konsumen utama minyak Iran, China terdampak langsung oleh gangguan di Selat Hormuz, namun tetap berupaya menjaga keseimbangan diplomatik.
Presiden Xi Jinping bahkan memperingatkan potensi kekacauan global akibat eskalasi konflik.
Baca Juga: Peringatan Darurat Dikeluarkan Israel, Konflik Lebanon Memanas
Tekanan Global dan Risiko Konflik Baru
Ketegangan juga dipicu oleh faktor regional, termasuk langkah Israel yang melakukan serangan ke Lebanon.
Langkah ini dinilai berpotensi mengganggu upaya diplomasi antara AS dan Iran.
Sementara itu, kebijakan AS seperti blokade laut dan sanksi tambahan melalui inisiatif “Economic Fury” semakin menekan perekonomian Iran.
Di dalam negeri AS, kebijakan Trump juga menuai kritik dari Kongres terkait legalitas tindakan militer tanpa persetujuan legislatif.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Selat Hormuz kini menjadi pusat ketegangan global, dengan blokade yang mengganggu distribusi energi dunia.
Situasi ini memperlihatkan bahwa peluang diplomasi semakin menyempit, sementara kedua pihak justru memperkuat posisi masing-masing.
Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump pada pertengahan Mei 2026 dipandang sebagai salah satu peluang terakhir untuk meredakan konflik sebelum eskalasi lebih besar terjadi.

[…] Trump Tolak Proposal Iran, IRGC Kian Keras dan Enggan Berdiplomasi […]