Volkswagen Hadapi Krisis, Sejumlah Pabrik Terancam Ditutup
Volkswagen (VW) menghadapi tekanan besar di tengah perubahan industri otomotif global. CEO Volkswagen Oliver Blume menyebut kondisi perusahaan saat ini berada dalam situasi yang “lebih dari kritis” akibat persaingan ketat, terutama dari produsen mobil asal China.
Pernyataan tersebut disampaikan Blume menjelang pertemuan dengan para pekerja Volkswagen di sejumlah fasilitas produksi di Jerman. Dalam pertemuan itu, ia akan menjelaskan rencana penghematan dan restrukturisasi perusahaan.
Menurut Blume, Volkswagen dan industri otomotif Jerman sedang menghadapi perubahan terbesar dalam sejarah. Tekanan tersebut berasal dari berbagai faktor, mulai dari persaingan global hingga meningkatnya biaya operasional.
Baca Juga: Economic D-Day Dideklarasikan AS untuk Tekan Iran
“Situasi yang kami hadapi saat ini lebih dari kritis,” ujar Blume dalam wawancara yang dipublikasikan melalui jaringan internal perusahaan, dikutip CNN, Selasa (25/8/2026).
Blume mengatakan tingkat keuntungan Volkswagen saat ini belum cukup untuk menjamin perusahaan memiliki sumber daya jangka panjang. Padahal, perusahaan membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan teknologi baru, produk kendaraan, serta mempertahankan fasilitas produksi.
Volkswagen kini tengah mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar. Meski demikian, Blume menegaskan belum ada keputusan final mengenai penutupan pabrik.
Namun, ia mengakui perusahaan belum menemukan solusi agar sejumlah fasilitas produksi tetap mampu menghasilkan keuntungan pada dekade 2030-an.
“Kami saat ini tidak dapat melihat cara agar pabrik di Emden, Hannover, Zwickau dan Neckarsulm tetap menguntungkan pada 2030-an,” jelasnya.
VW Cari Alternatif Sebelum Tutup Pabrik
Blume menegaskan bahwa penutupan pabrik akan menjadi pilihan terakhir bagi Volkswagen. Perusahaan masih mencari alternatif penggunaan fasilitas yang berpotensi tidak lagi digunakan untuk produksi kendaraan.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah pabrik di Osnabrueck. Volkswagen disebut tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan dari sektor pertahanan untuk mencari fungsi baru bagi fasilitas tersebut.
Baca Juga: Cadangan Gas 7,5 Triliun Kaki Kubik Ditemukan Iran
Selain ancaman penutupan pabrik, Volkswagen juga menghadapi masalah kelebihan kapasitas produksi di kawasan Eropa. Blume memperkirakan kapasitas produksi berlebih saat ini mencapai sekitar 500.000 kendaraan per tahun.
Tekanan terhadap Volkswagen tidak hanya berasal dari produsen kendaraan asal China yang semakin agresif memasuki pasar global. Perusahaan juga menghadapi dampak tarif Amerika Serikat, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta meningkatnya beban regulasi.
Kondisi tersebut membuat industri otomotif Jerman menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan daya saingnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pemulihan industri otomotif ke depan, Blume justru memperingatkan bahwa risiko global masih berpotensi meningkat.
“Sebaliknya, kita harus berasumsi bahwa risiko akan semakin memburuk di seluruh dunia,” pungkasnya.
