Warga Tinggalkan Pertalite! Penjualan Pertamax Melejit 76%
PT Pertamina Patra Niaga mencatat adanya perubahan pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat. Konsumsi Pertalite atau BBM bersubsidi RON 90 semakin menurun, sementara permintaan terhadap BBM non-subsidi, khususnya Pertamax Turbo, melonjak tajam.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, mengungkapkan bahwa permintaan Pertamax Turbo tumbuh hingga sekitar 76%. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Pertamina kini meningkatkan pasokan baik dari kilang dalam negeri maupun melalui impor.
Baca Juga : Inflasi Pangan Tembus 6,59%, Harga Telur Meledak!
Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Mars Ega menambahkan bahwa penurunan konsumsi BBM subsidi seperti solar dan Pertalite mulai terasa sepanjang 2025. Salah satu penyebabnya adalah penerapan sistem pembelian berbasis QR Code untuk mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi secara tepat sasaran.
Berdasarkan proyeksi perusahaan, penyaluran solar subsidi hingga Oktober 2025 diperkirakan masih berada dalam batas aman, yaitu di bawah 1,5% dari kuota yang ditetapkan. Untuk Pertalite, realisasinya diproyeksikan kurang dari 10% dari total kuota tahun 2025 yang mencapai 31,1 juta kiloliter. Adapun kuota solar subsidi ditetapkan sebesar 17,3 juta kiloliter.
Sementara itu, Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebutkan bahwa penjualan Pertamax Turbo telah melampaui target awal. Dari target tahunan sebesar 170 ribu kiloliter, realisasinya kini sudah mencapai sekitar 300 ribu kiloliter dan diperkirakan kembali meningkat selama periode Satgas Natal dan Tahun Baru.
Sejalan dengan itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan terjadi perubahan signifikan dalam konsumsi masyarakat sejak Juli–Agustus 2025. Penggunaan Pertalite terus menurun, sementara BBM dengan nilai oktan lebih tinggi semakin diminati.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, rata-rata penjualan harian Pertalite turun menjadi 76.970 kiloliter pada 2025 dari 81.106 kiloliter pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, penjualan BBM non-subsidi naik menjadi 22.723 kiloliter dari 19.061 kiloliter di 2024.
Laode menilai pergeseran konsumsi ini berdampak positif terhadap efisiensi subsidi energi. Kompensasi Pertalite yang awalnya diperkirakan Rp48,9 triliun berpotensi turun menjadi Rp36,31 triliun. Artinya, terjadi penghematan sekitar Rp12,6 triliun berkat peralihan konsumsi tersebut.
Baca Juga : KPK Serahkan Aset Rampasan ke Taspen, Atas Korupsi Investasi

[…] Warga Tinggalkan Pertalite! Penjualan Pertamax Melejit 76% […]
[…] Warga Tinggalkan Pertalite! Penjualan Pertamax Melejit 76% […]