Meta Disidang, Instagram dan Facebook Dituduh Bikin Candu
Kasus hukum besar yang melibatkan raksasa teknologi Meta mulai bergulir di Pengadilan Oakland, California. Persidangan yang diperkirakan berlangsung selama enam minggu ini merupakan gugatan dari 29 negara bagian Amerika Serikat (AS), termasuk California dan New York.
Para penggugat menuduh Meta sengaja merancang sejumlah fitur Facebook dan Instagram untuk membuat pengguna, khususnya anak-anak dan remaja, terus berada di platform. Strategi tersebut dinilai dilakukan demi meningkatkan keuntungan perusahaan meski berpotensi berdampak buruk terhadap kesehatan mental generasi muda.
Pemerintah negara bagian menuntut ganti rugi hingga miliaran dollar AS. Mereka juga meminta Meta melakukan perubahan besar terhadap desain platform, termasuk menghapus fitur infinite scroll dan tampilan jumlah like.
Baca Juga : 1.028 Perusahaan Jepang Bangkrut pada Juli 2026, Ada Apa?
Dalam pembukaan persidangan, pengacara negara bagian membeberkan sejumlah dokumen internal Meta, mulai dari hasil penelitian, percakapan internal hingga korespondensi para petinggi perusahaan.
Dokumen tersebut disebut menunjukkan bahwa Meta telah mengetahui adanya dampak negatif penggunaan platform terhadap remaja, tetapi tetap memprioritaskan pertumbuhan bisnis.
“Memikat pengguna, mempertahankan mereka selama mungkin, mengumpulkan data mereka, menyembunyikan kebenaran dari publik saat membuat pernyataan publik,” kata pengacara utama California, Megan O’Neill, dikutip dari BBC, Rabu (19/8/2026).
“Meta mengatakan, mereka mengutamakan keselamatan di atas keuntungan, tetapi menyembunyikan kenyataan bahwa, berulang kali, ketika harus mengambil keputusan, keuntunganlah yang menang,” sambungnya.
Riset Internal Meta Jadi Sorotan
Tim hukum negara bagian turut menyoroti hasil penelitian internal Meta mengenai dampak Instagram terhadap pengguna muda.
Salah satu dokumen yang diajukan dalam persidangan mencatat bahwa sekitar satu dari lima remaja mengaku merasa lebih buruk setelah menggunakan Instagram.
Penuntut juga menyebut penelitian internal Meta menunjukkan fitur yang dirancang untuk membuat pengguna menghabiskan waktu lebih lama di media sosial pada dasarnya bertentangan dengan kesejahteraan mental pengguna.
Selain persoalan desain aplikasi, Meta dituding membiarkan jutaan anak berusia di bawah 13 tahun mengakses Facebook dan Instagram tanpa sistem verifikasi usia yang cukup ketat.
Tuduhan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam gugatan yang diajukan puluhan negara bagian AS.
Meta Bantah Tuduhan Kecanduan
Meta membantah tuduhan tersebut dan menilai pihak penuntut keliru dalam menafsirkan dokumen internal perusahaan.
Pengacara utama Meta, Paul Schmidt, mengatakan penelitian yang sama juga menunjukkan mayoritas pengguna remaja merasakan dampak positif atau netral dari penggunaan Instagram.
Meta juga menolak anggapan bahwa platformnya secara sengaja dirancang untuk menciptakan kecanduan. Perusahaan berargumen bahwa klaim mengenai “kecanduan media sosial” belum memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat.
Meta Ungkit Privasi dan Verifikasi Usia
Dalam persoalan pengguna anak di bawah umur, Meta juga membantah jumlah pengguna berusia 11-12 tahun yang disebut negara bagian.
Schmidt mengatakan jumlah pengguna dalam kelompok usia tersebut yang berhasil terdeteksi perusahaan hanya sekitar 100.000 orang, jauh lebih rendah dari klaim pihak penggugat.
Meta berpendapat keterbatasan dalam memverifikasi usia setiap pengguna juga berkaitan dengan aturan privasi federal AS. Regulasi tersebut membatasi penyimpanan data pribadi anak secara berlebihan.
Baca Juga : Trump Klaim Sebut Selat Hormuz Milik AS, Iran Langsung Bantah
Perusahaan juga kembali mengutip pernyataan CEO Meta, Mark Zuckerberg, dan Kepala Instagram Adam Mosseri yang menyatakan bahwa Facebook dan Instagram tidak dirancang untuk menimbulkan kecanduan.
Meta berencana membuktikan bahwa berbagai fitur kontrol diri yang tersedia saat ini sudah cukup membantu pengguna mengatur waktu penggunaan platform secara lebih sehat.
Persidangan ini akan menjadi ujian besar bagi Meta. Jika gugatan negara bagian dikabulkan, perusahaan bukan hanya berpotensi menghadapi tuntutan ganti rugi miliaran dollar AS, tetapi juga harus melakukan perubahan mendasar terhadap cara Facebook dan Instagram dirancang dan beroperasi.
