270 Ribu Warga Israel Kabur, Ekonomi Netanyahu Terancam?
Gelombang warga Israel yang meninggalkan negaranya terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan sosial, politik, dan ekonomi Israel, terutama menjelang pemilu penting yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.
Studi Universitas Tel Aviv berdasarkan data Biro Pusat Statistik Israel mencatat hampir 270.000 warga Israel meninggalkan negara tersebut sepanjang 2023-2025.
Pada 2023, jumlah warga yang pergi mencapai lebih dari 86.500 orang. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 91.500 orang pada 2024 dan kembali berada di kisaran yang sama pada 2025.
Baca Juga : Di Juli 2026, Lebih dari 1.000 Perusahaan Jepang Bangkrut
Anggota oposisi sekaligus Ketua Komite Urusan Imigrasi, Penyerapan, dan Diaspora parlemen Israel, Gilad Kariv, menggambarkan kondisi tersebut sebagai “tsunami” emigrasi. Ia menilai pemerintah belum mengambil langkah yang cukup untuk menghentikan arus keluar warga Israel.
Data otoritas pajak Israel juga menunjukkan jumlah emigrasi pada 2023 dan 2024 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Yang semakin mengkhawatirkan, warga yang meninggalkan Israel kini semakin banyak berasal dari kelompok berpenghasilan tinggi, berpendidikan, serta memiliki keterampilan yang dibutuhkan perekonomian.
Ketidakamanan dan Politik Jadi Pemicu
Ahli demografi Israel Sergio Della Pergola mengatakan gelombang emigrasi terbaru memiliki karakter berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Jika sebelumnya keputusan meninggalkan Israel lebih sering berkaitan dengan persoalan ekonomi jangka pendek, kondisi saat ini justru dipengaruhi ketidakpastian keamanan dan kekhawatiran terhadap arah politik negara.
“Kali ini, tidak jelas peran apa yang dimainkan ekonomi,” kata Della Pergola, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, polarisasi politik Israel semakin tajam setelah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendorong reformasi sistem peradilan pada 2023.
Kebijakan tersebut memicu demonstrasi besar di berbagai wilayah Israel. Situasi kemudian semakin kompleks setelah perang pecah menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kondisi keamanan yang tidak menentu membuat sebagian warga mulai mempertanyakan masa depan mereka di Israel.
Keluarga Muda Berpendidikan Tinggi Mulai Pergi
Profesor imigrasi dan demografi Lilach Lev Ari mengatakan karakteristik warga yang meninggalkan Israel juga mengalami perubahan.
Menurutnya, semakin banyak keluarga muda dengan pendidikan dan pencapaian tinggi yang memilih meninggalkan negara tersebut.
“Makin banyak, keluarga muda yang berpendidikan tinggi dan berprestasi tinggi meninggalkan negara ini,” ujarnya.
Lev Ari mengaitkan fenomena tersebut dengan sejumlah faktor, termasuk reformasi peradilan, kondisi sosial-politik, dan perang yang berkepanjangan.
Baca Juga : Trump Klaim Hormuz, Iran Berikan Bantahan
Perubahan profil emigran ini menjadi perhatian serius karena Israel sangat bergantung pada sumber daya manusia berkualitas, khususnya untuk menopang sektor teknologi dan inovasi.
“Kami kehilangan beberapa orang yang kompeten, tetapi kami masih memiliki orang-orang baik di sini,” kata Lev Ari.
Namun, ia mengingatkan bahwa persoalannya bukan hanya jumlah warga yang pergi. Gelombang emigrasi tersebut telah berlangsung hampir tiga tahun dan justru menunjukkan tren peningkatan.
Jika kelompok profesional, berpendidikan tinggi, dan keluarga muda terus meninggalkan Israel, dampaknya berpotensi lebih besar terhadap produktivitas, inovasi, penerimaan pajak, serta daya saing ekonomi negara dalam jangka panjang.
