AS Deklarasikan ‘Economic D-Day’ untuk Tekan Iran
Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mendeklarasikan fase baru yang disebut “Economic D-Day”. Washington menyiapkan serangkaian langkah keuangan berskala luas untuk mempersempit ruang ekonomi Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan operasi tersebut akan diarahkan untuk memutus sumber-sumber ekonomi yang menopang pemerintah Iran. Pada saat yang sama, Washington juga ingin memperdalam isolasi Teheran dari sistem ekonomi internasional.
Operasi ekonomi itu sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump pada pekan lalu. Trump menggambarkan “Economic D-Day” sebagai “perang dan isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Melalui akun Truth Social, Trump juga memperingatkan negara lain agar tidak memberikan bantuan kepada Iran. Negara yang tetap membantu Teheran disebut dapat menghadapi konsekuensi ekonomi dari Washington.
Trump mengatakan negara mana pun yang “memberikan bantuan penyelamatan dalam bentuk apa pun” kepada Iran akan menghadapi “konsekuensi ekonomi yang SANGAT BERAT”.
Baca Juga: Cadangan Gas 7,5 Triliun Kaki Kubik Ditemukan Iran
Dalam pernyataan terbarunya, Bessent menyebut AS kini telah memasuki tahap akhir dalam tekanan terhadap Iran. Menurut dia, pemerintahan Trump bersiap melancarkan serangan finansial dalam skala besar.
“Presiden Trump telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan nyaris 100 persen pabrik militernya, dan mengubur program nuklirnya,” sebut Bessent dalam postingan via media sosial X.
“Kita sekarang memasuki tahap akhir. Saat fajar menyingsing, dimulainya ‘Economic D-Day’ — serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap musuh,” tegas Menkeu AS tersebut.
AS Siapkan Tekanan Finansial Lebih Luas
Bessent mengatakan pemerintah AS berencana mengerahkan berbagai sumber daya untuk memperbesar tekanan terhadap Iran. Langkah tersebut mencakup penggunaan kewenangan dan instrumen ekonomi yang tersedia bagi pemerintah federal.
“Presiden telah menciptakan kondisi untuk mengerahkan setiap badan, setiap wewenang, dan setiap tindakan yang sebelumnya dianggap tidak akan pernah kita gunakan. Tujuan kami adalah memutus setiap penopang ekonomi yang menyokong rezim tirani tersebut hingga Teheran berdiri sendirian,” tegasnya.
Washington juga memperingatkan pemerintah maupun pihak lain agar tidak menganggap AS akan ragu menjatuhkan sanksi. Peringatan tersebut terutama ditujukan kepada pihak yang tetap membantu Iran di tengah tekanan ekonomi yang sedang disiapkan.
“Republik Islam (Iran) bertahan hidup dengan cara mengemas pemerasan sebagai jaminan keamanan. Mereka mengandalkan perhitungan yang menganggap bahwa pembalasan dari Iran adalah suatu kepastian, dan penegakan aturan oleh Amerika dapat dinegosiasikan,” ujarnya.
Baca Juga: Sebut AS Gagal, Iran Tantang Ancaman Sanksi Terberat AS
“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, era tersebut telah berakhir,” tegas Bessent.
Bessent juga mengingatkan negara dan pihak lain agar tidak meremehkan konsekuensi apabila menentang kebijakan Washington terhadap Teheran.
“Dan bagi mereka yang takut akan bahaya menentang Teheran, janganlah meremehkan konsekuensi dari tindakan menguji ketegangan Washington,” tandasnya.
Meski telah mendeklarasikan “Economic D-Day”, Bessent belum menjelaskan secara rinci instrumen ekonomi yang akan digunakan. Ia juga belum menyebut badan pemerintah mana saja yang akan dilibatkan dalam operasi tersebut.
Dengan demikian, skala dan bentuk konkret tekanan ekonomi terbaru AS terhadap Iran masih belum sepenuhnya diketahui. Namun, pernyataan Washington menunjukkan bahwa tekanan finansial akan menjadi salah satu instrumen utama dalam menghadapi Teheran.
