Bukan Hanya Perancis, 4 Negara Eropa Ini Dilanda Kerusuhan
Gelombang demonstrasi akibat tekanan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah melanda sejumlah negara di Eropa pada Oktober 2026.
Selain Perancis, aksi protes terjadi di Albania, Italia, Belgia, dan Portugal dengan tuntutan mulai dari penanganan korupsi hingga perbaikan layanan publik dan akses terhadap perumahan.
Namun, tingkat kericuhan di setiap negara berbeda, mulai dari bentrokan antara demonstran dan polisi hingga aksi unjuk rasa yang berlangsung damai.
Dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (19/10/2026), rangkaian demonstrasi tersebut mencerminkan meningkatnya keresahan masyarakat terhadap biaya hidup dan kebijakan pemerintah di sejumlah negara Eropa.
1. Albania: Demonstrasi Antikorupsi Berujung Bentrokan
Perdana Menteri Albania Edi Rama menghadapi tekanan setelah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung selama enam hari berturut-turut.
Para demonstran menuntut pengunduran dirinya sebagai bentuk protes terhadap dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.
Aksi yang berlangsung di ibu kota Tirana dan sejumlah kota lainnya itu berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Sejumlah demonstran membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta mencabut batu paving untuk dilemparkan ke arah polisi.
Pada Minggu (18/10/2026), ribuan orang kembali berkumpul di depan Kementerian Pendidikan dan melemparkan batu ke arah aparat.
Baca Juga: Pajak China Diperketat, Orang Kaya Jual Saham
Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata, menggunakan meriam air, dan melepaskan peluru karet untuk membubarkan massa.
Rama menolak desakan untuk mundur dari jabatannya dan menilai demonstrasi tersebut bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE).
“Yang sedang ditantang bukan saya, bukan pemerintah, bukan mayoritas pemerintah atau partai pemenang pemilu, melainkan sebuah jalan dan sebuah misi,” kata Rama dalam siaran langsung melalui Facebook, seperti dikutip Reuters.
Komisi Eropa mengecam kekerasan yang terjadi di Tirana dan sejumlah kota lainnya, tetapi tetap mendukung hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat melalui demonstrasi damai.
Menurut kepolisian, sebanyak 388 orang telah dikenai dakwaan pidana terkait demonstrasi tersebut, sementara puluhan polisi dan demonstran dilaporkan terluka.
Albania sendiri menargetkan keanggotaan Uni Eropa pada 2030.
2. Italia: Bentrokan dengan Polisi dan Penjarahan Toko
Kerusuhan juga melanda Italia ketika demonstrasi yang menyoroti mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke sejumlah kota.
Pada Minggu, polisi terlibat bentrokan dengan demonstran di Milan, tepatnya di sekitar Piazza Duomo, kawasan pusat kota.
Sejumlah demonstran melemparkan batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah.
Untuk membubarkan massa, aparat antihuru-hara menggunakan gas air mata dan meriam air.
Sejumlah sumber yang mengetahui penyelidikan mengatakan kepada Reuters bahwa lebih dari 60 demonstran dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Sehari sebelumnya, bentrokan serupa terjadi di Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Sebanyak 28 orang dilaporkan ditangkap dalam rangkaian aksi tersebut.
Gelombang demonstrasi di Italia menjadi bagian dari protes yang lebih luas di Eropa, ketika masyarakat menyuarakan keresahan terhadap tekanan ekonomi dan penurunan kualitas layanan publik.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut.
Pemerintah Italia menjadwalkan pertemuan pada Senin untuk membahas langkah penanganan situasi, di tengah persiapan menghadapi pemilihan umum tahun depan.
3. Belgia: Demonstrasi Biaya Hidup Berubah Ricuh
Di Belgia, demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup juga berujung bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi.
Aksi berlangsung di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10/2026). Aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran.
Di kawasan Bourse, Brussel, polisi menembakkan gas air mata setelah sejumlah anak muda melemparkan botol dan benda lainnya ke arah petugas.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam keras kekerasan tersebut melalui unggahan di media sosial pada Sabtu.
“Ini bukan lagi sekadar demonstrasi,” tulis Quintin.
Ia juga menggambarkan aksi tersebut sebagai “kekerasan murni yang terorganisasi dan berulang, dengan tujuan mengguncang masyarakat kita,” seraya berjanji mengambil langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban.
Sebelumnya, pelajar sekolah menengah di Belgia juga menggelar demonstrasi terkait kenaikan biaya pendidikan.
Aksi tersebut berlangsung di tengah protes mahasiswa di Perancis yang menyoroti kekurangan guru, buruknya fasilitas sekolah, dan ruang kelas yang terlalu padat.
Kerusuhan di Perancis juga berdampak terhadap pekerja media yang meliput demonstrasi di Paris.
Kru Euronews dilaporkan diserang sekelompok orang yang diduga terlibat dalam penjarahan sebuah supermarket.
Koresponden Euronews Estelle Nilsson-Julien mengatakan kameramennya dipukul, sementara mikrofon mereka berusaha direbut ketika sedang merekam kejadian tersebut.
Baca Juga: Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Ratusan Orang Ditangkap
4. Portugal: Demonstrasi Tuntut Upah dan Perumahan Terjangkau
Berbeda dengan Albania, Italia, dan Belgia, demonstrasi di Portugal yang dilaporkan pada Sabtu berlangsung dengan fokus pada tuntutan ekonomi dan sosial.
Serikat pekerja yang berafiliasi dengan konfederasi CGTP bersama kelompok pejuang hak perumahan menggelar aksi di Porto, Coimbra, dan Lisbon.
Mereka menuntut kenaikan upah, perbaikan pensiun, serta penyediaan layanan publik yang memadai.
Aksi tersebut dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan perumahan yang semakin sulit dijangkau masyarakat.
Seorang juru bicara CGTP mengatakan kepada SIC Notícias bahwa kenaikan biaya hidup membuat harga kebutuhan sehari-hari semakin mahal.
Sekretaris Jenderal CGTP Tiago Oliveira juga menyoroti lonjakan harga rumah dan memburuknya kualitas layanan publik.
Di Porto, demonstran berbaris dari Praça da Batalha menuju Praça D. João I.
Salah satu pengorganisasi aksi, Pedro Manuel, mengatakan gerakan tersebut mendapat dukungan dari warga berbagai kelompok dan tidak terikat secara kelembagaan dengan partai politik tertentu.
Ia menyebut demonstrasi tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap penyalahgunaan wewenang dan krisis yang berkepanjangan.
Persoalan perumahan menjadi salah satu fokus utama aksi di Portugal.
Tokoh Blok Kiri Portugal, José Manuel Pureza, mengatakan masyarakat ingin membahas hak atas tempat tinggal yang layak, termasuk kesulitan penyewa menghadapi kenaikan harga sewa dan beban cicilan rumah yang semakin besar.
Meski menilai tuntutan demonstran sebagai persoalan yang sah, Wali Kota Lisbon mengingatkan agar seluruh aksi tetap berlangsung sesuai hukum.
