AS-Iran di Ambang Perang, China & Rusia Turun Tangan
Iran dan Amerika Serikat (AS) dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026), untuk membahas kelanjutan kesepakatan nuklir Teheran. Meski membuka ruang diplomasi, agenda ini belum tentu meredakan ketegangan kedua negara.
Negara-negara Barat meyakini Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran menegaskan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai.
Presiden AS, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman serangan apabila kesepakatan tidak tercapai. Walau mengedepankan jalur diplomasi, ia tetap membuka opsi militer.
Baca Juga : Pemilihan Ketua OJK Jadi Penentu, DPR yakin IHSG Bisa Kembali 9.000
“Pilihan saya adalah untuk menyelesaikan masalah melalui diplomasi, tapi satu yang pasti, saya tak akan mengizinkan pendukung teror nomor satu dunia… memiliki senjata nuklir,” klaim Trump.
Dilansir dari CNBC Indonesia, dalam perkembangan terbarunya, ketegangan ini secara tidak langsung sudah melibatkan Rusia dan China.
Rusia Perkuat Pertahanan Udara Iran
Ketegangan juga menyeret Rusia. Laporan Financial Times menyebutkan, adanya kesepakatan rahasia antara Teheran dan Moskow senilai sekitar 500 juta euro untuk pengadaan sistem pertahanan udara modern.
Perjanjian yang diteken di Moskow pada Desember 2025 itu mencakup pengiriman 500 peluncur portabel Verba, dan 2.500 rudal tipe 9M336 dalam periode tiga tahun. Pengiriman dijadwalkan berlangsung bertahap pada 2027–2029, meski sejumlah sistem disebut telah lebih dulu dikirim.
Sistem Verba dikenal sebagai salah satu perangkat pertahanan udara tercanggih Rusia, efektif menghadapi rudal jelajah dan UAV terbang rendah.
China dan Rudal Supersonik CM-302
Selain Rusia, China juga disebut hampir mencapai kesepakatan dengan Iran terkait pembelian rudal jelajah antikapal supersonik CM-302. Negosiasi ini berlangsung di tengah pengerahan besar kekuatan laut AS di sekitar Teluk.
Rudal CM-302 memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang terbang rendah dengan kecepatan tinggi guna menghindari sistem pertahanan kapal perang. Dua pakar senjata menilai pengerahan sistem ini, secara signifikan akan meningkatkan daya serang Iran terhadap armada laut AS.
“Ini adalah pengubah permainan (gamechanger) yang lengkap jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal-kapal di area tersebut. Rudal-rudal ini sangat sulit untuk dicegat,” kata mantan perwira intelijen Israel yang kini menjadi peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies, Danny Citrinowicz, kepada Reuters.
Hingga kini belum ada kepastian terkait jumlah unit maupun nilai kontrak rudal tersebut. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran memberi sinyal positif atas kerja sama itu.
Baca Juga : DPR Sebut MBG Bisa Pakai Dana Pendidikan sebagai Langkah Cerdas!
“Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutu-sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian tersebut,” ujar pejabat Kementerian Luar Negeri Iran tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak mengetahui adanya pembicaraan tentang penjualan rudal seperti yang dilaporkan.
Jika terealisasi, transfer CM-302 akan menjadi salah satu pengiriman alutsista paling canggih dari China ke Iran, dan berpotensi memperumit upaya AS membatasi program rudal dan nuklir Teheran.

[…] AS-Iran di Ambang Perang, China & Rusia Turun Tangan […]
[…] Baca Juga: China dan Rusia Turun Tangan kala AS-Iran di Ambang Perang […]