Patuh ke AS! Pendukung Chavez Kritik Arah Baru Venezuela
Gerakan sosialis Venezuela yang dikenal sebagai Chavismo mulai menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Kelompok yang selama puluhan tahun identik dengan perlawanan terhadap pengaruh Amerika Serikat kini menghadapi perdebatan internal setelah perubahan arah kebijakan yang dilakukan pemerintahan Presiden Delcy Rodriguez.
Sejak lengsernya Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026, pemerintah Venezuela mengambil sejumlah langkah baru yang dinilai berbeda dari prinsip-prinsip yang selama ini menjadi fondasi Chavismo. Di antaranya adalah pembaruan regulasi sektor energi dan pertambangan untuk menarik investasi asing, penyerahan uranium yang diperkaya kepada Amerika Serikat, hingga ekstradisi sekutu Maduro, Alex Saab, ke Miami untuk menghadapi kasus pencucian uang.
Baca Juga : BGN Benahi Pelaksanaan MBG, SPPG Diperketat
Bagi sebagian pendukung lama Chavismo, perubahan tersebut dianggap sebagai tanda bahwa Venezuela mulai menjauh dari warisan politik yang dibangun oleh Hugo Chavez.
Salah satu kritik keras datang dari Mario Silva, tokoh senior yang ikut mendirikan Partai Sosialis Bersatu Venezuela dan dikenal sebagai pendukung setia Chavez.
“Kami sudah kehilangan kedaulatan, kebebasan, dan kemerdekaan kami,” kata Silva.
Kehadiran AS di Caracas Picu Kemarahan
Menurut laporan The Wall Street Journal, ketegangan di internal Chavismo semakin meningkat setelah dua pesawat MV-22 Osprey milik Korps Marinir AS mendarat di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Caracas dalam rangka latihan evakuasi militer.
Bagi kelompok garis keras, kehadiran pesawat militer AS di ibu kota Venezuela dianggap sebagai simbol meningkatnya pengaruh Washington terhadap pemerintahan baru.
Tak hanya itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang pernah melontarkan gagasan menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat juga memicu reaksi keras dari para loyalis Chavismo.
Mantan Wakil Presiden Venezuela, Elias Jaua, turut mengkritik langkah ekonomi Rodriguez. Ia menilai berbagai keputusan strategis diambil tanpa melibatkan basis pendukung tradisional gerakan tersebut.
Sejumlah akademisi dan aktivis kiri yang selama ini menjadi pendukung ideologis Chavismo juga mengaku mulai tersisih seiring upaya pemerintah mendekati investor asing dan memperbaiki hubungan dengan Washington.
Pemerintah Bantah Ada Perpecahan
Pemerintah Venezuela menolak tudingan bahwa Chavismo sedang mengalami krisis internal. Tokoh pro-pemerintah, Jorge Arreaza, menyebut berbagai kritik yang muncul sebagai bagian dari upaya menciptakan konflik politik.
“Ada kampanye media psikologis di media sosial melawan Chavismo,” kata Arreaza.
Sementara itu, Delcy Rodriguez menegaskan bahwa kerja sama dengan Amerika Serikat diperlukan untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang selama bertahun-tahun terdampak salah kelola dan sanksi internasional.
Kebijakan Rodriguez juga masih mendapat dukungan dari sejumlah tokoh berpengaruh di pemerintahan lama, termasuk Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello.
Langkah tersebut bahkan mendapat respons positif dari Washington yang mulai melonggarkan sejumlah pembatasan terhadap sektor minyak dan keuangan Venezuela.
Warisan Hugo Chavez Jadi Taruhan
Pada awal masa transisi, sebagian kader partai masih memberikan ruang bagi Rodriguez untuk menjalankan pemerintahan. Mereka memahami tantangan besar yang dihadapi Venezuela setelah jatuhnya Maduro.
“Ini seperti mencoba memerintah dengan pistol yang diarahkan ke leher Anda,” ujar mantan anggota parlemen Juan Contreras.
Namun, dukungan tersebut perlahan memudar seiring meningkatnya pengaruh Amerika Serikat dalam berbagai kebijakan pemerintah.
Kelompok loyalis juga mengkritik undang-undang amnesti yang ditandatangani Rodriguez. Kebijakan itu dinilai secara tidak langsung mengakui keberadaan tahanan politik pada era pemerintahan sebelumnya, sesuatu yang selama ini dibantah oleh pemerintah.
Selain kebijakan, perubahan simbol politik juga menjadi sorotan. Rodriguez mulai mengurangi penggunaan warna merah yang selama ini identik dengan Chavismo dan menggantinya dengan warna biru muda.
“Merah dulu berarti perjuangan. Biru pucat adalah untuk membuat massa tertidur,” kata Silva.
Baca Juga : Netanyahu Ramal Rezim Iran akan Tumbang, Teheran Disebut Melemah
Di sisi lain, survei AtlasIntel Bloomberg pada akhir Mei menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Rodriguez hanya berada di kisaran 25 persen, sementara tingkat ketidakpuasan publik mendekati 60 persen.
Bagi para pendukung lama Chavismo, perdebatan yang terjadi saat ini bukan sekadar soal kebijakan, melainkan tentang masa depan warisan politik Hugo Chavez.
“Kami menyaksikan dengan rasa sakit ketika sosok Komandan Hugo Chávez praktis sedang dihapus,” kata Silva.
Ia juga menyoroti masih banyaknya pertanyaan yang belum terjawab terkait jatuhnya Maduro, termasuk minimnya perlawanan saat pasukan AS bergerak di Venezuela.
“Saya tidak bisa menuduh orang lain melakukan pengkhianatan. Tetapi secara politik, ada banyak pertanyaan yang harus mereka jawab,” ujarnya.
