Netanyahu Dikritik di Dalam Negeri saat AS Rangkul Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan semakin menunjukkan perbedaan sikap terkait proses perdamaian antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Israel bahkan mengaku belum menerima atau melihat draf nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disiapkan untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran.
Mengutip NBC News, seorang pejabat pemerintah Israel pada Rabu (17/6/2026) menyatakan bahwa Israel belum diperlihatkan dokumen tersebut meskipun Trump sebelumnya mengatakan telah memberikan salinannya kepada Israel.
“Tak lama setelah Presiden Donald Trump mengatakan dia telah memberikan salinan MOU tersebut kepada Israel, sumber yang sama mengatakan Israel masih belum melihat rancangan tersebut,” tulis laporan NBC News.
Baca Juga: Arab Saudi Sambut Damai AS-Iran, Stabilitas Disoroti MBS
Sumber tersebut juga tidak menjelaskan apakah diplomat Israel telah meminta akses terhadap dokumen tersebut dan ditolak.
Situasi itu dinilai menjadi tantangan politik baru bagi Netanyahu yang dijadwalkan menghadapi pemilihan umum sebelum akhir Oktober 2026.
Ketegangan antara Trump dan Netanyahu juga disebut meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Trump dilaporkan kesal terhadap serangan Israel ke Lebanon yang dinilai berpotensi mengganggu proses perundingan damai antara AS dan Iran.
Saat menghadiri KTT G7, Trump kembali menegaskan perannya dalam mendukung Israel selama menjabat sebagai presiden AS.
“Tanpa saya, tidak akan ada Israel,” kata Trump.
Ia juga disebut melontarkan kritik keras terhadap Netanyahu terkait kebijakan Israel di kawasan.
Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi tekanan dari berbagai pihak yang menilai pemerintahannya gagal mengamankan kepentingan strategis Israel dalam perundingan antara AS dan Iran.
Sejumlah kalangan di Israel khawatir kerangka perdamaian yang sedang dibahas tidak sejalan dengan kepentingan keamanan negara tersebut.
Dalam survei yang dirilis Institut Demokrasi Israel dua pekan lalu, sebanyak 57,5 persen responden menyatakan tidak yakin kesepakatan yang sedang dirancang AS dan Iran akan menguntungkan keamanan Israel.
Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menjadi salah satu tokoh yang melontarkan kritik terhadap Netanyahu.
“Israel menanggung akibat dari keangkuhan dan kebutaan Netanyahu, dan akibat dari manipulasi yang ia coba lakukan terhadap Trump,” kata Barak dalam sebuah wawancara pada Senin (15/6/2026).
“Iran menjadi lebih kuat, Israel menjadi lebih lemah. Itu adalah tanggung jawab strategis Netanyahu. Dia gagal,” lanjutnya.
Kritik serupa juga disampaikan pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, yang diperkirakan akan menjadi salah satu penantang Netanyahu dalam pemilu mendatang.
Baca Juga: Rusia Didesak Trump Segera Berdamai dengan Ukraina usai Kesepakatan Iran
“Kerangka kesepakatan tersebut adalah salah satu kegagalan paling mengejutkan dalam kebijakan luar negeri dan keamanan Israel … sepenuhnya atas nama Netanyahu,” kata Lapid.
Perdebatan mengenai kesepakatan AS-Iran diperkirakan akan terus menjadi isu politik penting di Israel menjelang pemilu, terutama di tengah ketidakpastian mengenai isi akhir perjanjian yang sedang dirundingkan Washington dan Teheran.
