Airlangga Ungkap 1.800 Ton Emas RI Masih “Di Bawah Bantal”
Pemerintah Indonesia tengah mendorong masyarakat untuk memasukkan aset emas yang selama ini disimpan secara pribadi ke dalam ekosistem keuangan nasional. Pasalnya, pemerintah memperkirakan masih terdapat sekitar 1.800 ton emas milik masyarakat yang belum masuk ke sistem bullion Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, jumlah tersebut memiliki nilai yang sangat besar, mencapai sekitar US$252 miliar.
“Emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton. Nah, kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$ 252 miliar,” kata Airlangga dalam acara Peluncuran Indonesia Bullion Market Association di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga : Prabowo Siapkan Anggaran untuk Swasembada Pangan 2027
Untuk menarik emas masyarakat ke dalam sistem keuangan, pemerintah menugaskan dua lembaga jasa keuangan yang telah memiliki layanan bullion, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian.
Airlangga meminta kedua lembaga tersebut mencari strategi agar masyarakat merasa aman dan percaya untuk menitipkan atau mengelola emas mereka melalui instrumen keuangan.
“Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang 252 billion ini mungkin 20% nya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal, ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan syariah maupun Pegadaian,” tutur Airlangga.
Menurutnya, jika sebagian saja dari emas tersebut berhasil masuk ke ekosistem keuangan nasional, dampaknya terhadap penguatan pasar bullion Indonesia akan sangat besar.
Saat ini, Pegadaian disebut telah mengelola sekitar 153 ton emas masyarakat, sedangkan BSI mengelola sekitar 20 ton.
Baca Juga : MDR QRIS 0% Diperluas Semua Merchant Bakal Gratis Mulai Oktober
Airlangga menilai potensi 1.800 ton emas milik masyarakat tersebut dapat membuat posisi Indonesia semakin kuat dalam peta kepemilikan emas dunia apabila berhasil masuk ke sistem keuangan nasional.
Ia juga membandingkannya dengan kepemilikan emas sejumlah negara besar.
“Nah ini sebuah pertumbuhan yang luar biasa kalau itu bisa kita lakukan. Karena kalau kita lihat Amerika punya stok emas 8.133 ton, kemudian China 2.331. Kalau Indonesia 1.800, itu udah langsung di bawah mereka semua,” ucap Airlangga.
Pemerintah berharap pengembangan ekosistem bullion tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan penyimpanan dan investasi emas, tetapi juga mengoptimalkan potensi aset emas domestik yang selama ini berada di luar sistem keuangan.
