Eskalasi AS-Israel vs Iran: Trump Terancam Krisis Besar
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dinilai berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perekonomian AS. Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global yang berisiko mendorong inflasi, melemahkan daya beli masyarakat, serta mengganggu stabilitas ekonomi negara tersebut.
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran turut mengguncang pasar energi dunia. Konflik ini bahkan berdampak pada pasokan energi global, termasuk terganggunya aktivitas di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Baca Juga : Bahlil Jamin Harga BBM di RI Tetap “Aman” Sampai Lebaran
Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak acuan Brent bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak Juli 2024. Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak global hampir pasti akan berimbas pada harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di AS, yang merupakan isu sensitif dalam dinamika politik domestik.
Harga Bensin Diperkirakan Segera Naik
Analis utama Oxford Economics, John Canavan, menilai lonjakan harga bensin di AS kemungkinan terjadi dalam waktu dekat.
“Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujarnya kepada AFP, dikutip Rabu (4/3/2026).
Menurut Canavan, harga bensin di Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai mengalami kenaikan sejak awal Januari. Ia menjelaskan bahwa para pengecer bahan bakar biasanya bereaksi cepat terhadap perkembangan geopolitik yang dapat memicu kenaikan harga energi.
Kenaikan biaya energi ini diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan bagi rumah tangga di AS. Hal tersebut juga berpotensi mengurangi belanja konsumen yang selama ini menyumbang sekitar dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
Dampak Energi Mahal ke Transportasi dan Logistik
Ekonom dari ING, James Knightley, menyebut kenaikan harga energi dapat memicu efek domino pada berbagai sektor ekonomi.
Harga energi yang lebih mahal berpotensi meningkatkan tarif penerbangan serta biaya distribusi barang. Meski Amerika Serikat memiliki tingkat kemandirian yang cukup tinggi dalam produksi gas alam, Knightley menegaskan bahwa harga energi domestik tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global.
“Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS,” kata Knightley.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila masyarakat harus mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk bensin dan utilitas, tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga akan semakin besar. Situasi tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi, terlebih jika konflik berlangsung lebih lama.
Baca Juga : Iran Lumpuh Total Usai Serangan AS-Israel, Krisis Meningkat
Risiko Politik bagi Pemerintahan Trump
Perkembangan situasi ini juga dapat menimbulkan tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump. Pemerintah diperkirakan akan berupaya menahan lonjakan harga energi karena dampaknya langsung terhadap persepsi publik menjelang pemilu.
Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menilai persoalan keterjangkauan harga menjadi perhatian utama bagi banyak rumah tangga di Amerika Serikat.
“Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kepercayaan dan sentimen konsumen. Itu bisa terlihat di bilik suara pada bulan November,” ujarnya.
Dilema Federal Reserve Hadapi Risiko Inflasi
Konflik Iran juga menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve, dalam situasi yang sulit. Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi kembali meningkat sehingga mendorong suku bunga tetap tinggi. Di sisi lain, perlambatan ekonomi serta potensi melemahnya pasar tenaga kerja justru membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan pihaknya masih perlu memantau dampak konflik terhadap perekonomian secara lebih mendalam.
Knightley menilai risiko inflasi jangka pendek membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin kecil. Menurutnya, bank sentral harus menyeimbangkan dua tujuan yang saling bertentangan, yaitu menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan tingkat lapangan kerja yang maksimal.
Baca Juga : Garda Revolusi Iran Klaim Telah Kuasai Selat Hormuz, Apa Dampaknya?
