Iran Pamer Kekuatan, Israel-AS Mulai Tertekan
Rentetan rudal balistik yang ditembakkan Iran ke wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir dinilai bukan hanya aksi balasan semata. Di balik serangan tersebut, Teheran diyakini sedang mengirim pesan strategis bahwa mereka masih menjadi kekuatan utama di Timur Tengah sekaligus mampu menekan posisi Amerika Serikat (AS) di kawasan.
Serangan itu juga memperlihatkan bahwa Iran masih memiliki kapasitas militer yang cukup besar meskipun sebelumnya menjadi sasaran gempuran udara intensif dari AS dan Israel.
Para pemimpin Iran disebut berharap kombinasi serangan rudal dan upaya Presiden AS Donald Trump menjaga peluang kesepakatan damai dapat menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar mengurangi operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon. Hizbullah sendiri diketahui merupakan sekutu utama Iran di kawasan, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.
Baca Juga : BGN Sebut Program MBG Investasi Jangka Panjang
Ketegangan meningkat setelah Israel menggempur Beirut di tengah situasi gencatan senjata. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan sejumlah rudal ke Israel, meski serangan tersebut dilaporkan tidak menimbulkan kerusakan besar.
Israel lalu merespons dengan menyerang fasilitas petrokimia strategis Iran serta sistem pertahanan udaranya. Bentrokan ini menjadi aksi saling serang langsung pertama antara kedua negara sejak Trump mengumumkan penghentian operasi pengeboman AS dan Israel terhadap Iran pada April lalu.
Pada Senin (8/6/2026), Iran mengumumkan penghentian sementara serangannya. Namun, Teheran memperingatkan bahwa operasi militer bisa kembali dilakukan dan diperluas apabila Israel terus menyerang, termasuk di Lebanon selatan.
Di sisi lain, Israel menyatakan menghentikan serangan terhadap Iran tetapi tetap akan melanjutkan operasi terhadap Hizbullah.
“Israel dan Iran harus segera berhenti ‘menembak’,” tulis Trump di media sosialnya pada Senin.
Iran Makin Percaya Diri
Iran dinilai semakin yakin dengan posisinya setelah mampu bertahan menghadapi lebih dari sebulan serangan udara gabungan AS dan Israel.
Teheran juga dianggap berhasil membangun efek gentar melalui ancaman terhadap jalur perdagangan global, termasuk potensi blokade Selat Hormuz dan ancaman terhadap negara-negara Teluk yang dinilai rentan.
Sementara itu, Gedung Putih tampak enggan kembali membuka konflik besar, meskipun gencatan senjata yang berlangsung dua bulan terus diuji.
Situasi tersebut dinilai membuat Iran semakin percaya diri untuk mengambil langkah lebih agresif tanpa khawatir memicu serangan balasan besar-besaran.
“Keputusan Iran menunjukkan mereka percaya memiliki posisi lebih kuat, dengan Trump yang enggan memperbarui pertempuran,” kata Ofer Guterman, peneliti senior di Institute for National Security Studies yang berbasis di Tel Aviv.
“Hal itu memungkinkan mereka memproyeksikan kekuatan, dan bukan dengan cara yang sepele,” tambahnya.
Meski demikian, Iran masih menghadapi sejumlah kelemahan besar. Kondisi ekonomi negara itu masih terpuruk, mereka belum sepenuhnya menguasai wilayah udaranya sendiri, dan kemampuan untuk memberikan kerusakan strategis terhadap Israel dinilai tetap terbatas.
Ribuan Rudal Masih Tersimpan
Walau berada dalam tekanan, Iran disebut berhasil membalikkan sebagian keuntungan strategis yang sebelumnya diraih AS dan Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025.
Baca Juga : Resmi! Harga Pertamax Naik Mulai 10 Juni 2026
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran juga menunjukkan bahwa mereka masih memiliki persediaan rudal balistik dalam jumlah besar untuk melanjutkan konflik.
Laporan intelijen AS pada April menyebut Iran masih menyimpan ribuan rudal balistik setelah melewati fase awal perang selama 40 hari.
Para pejabat Iran kini secara terbuka menunjukkan kemampuan militernya untuk menekan kepentingan AS dan Israel sambil tetap memainkan jalur diplomasi.
“Bangsa Iran telah membuktikan dalam perjuangannya melawan AS dan rezim Zionis bahwa era ancaman tanpa konsekuensi terhadap Iran telah berakhir,” tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, pekan lalu.
