Perang Iran Jadi Bumerang, Netanyahu Terdesak
Perang besar yang selama puluhan tahun menjadi obsesi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini justru dinilai berubah menjadi beban baru bagi Israel. Serangan terhadap Iran yang semula diharapkan mampu menghancurkan ancaman Teheran disebut gagal mencapai sasaran utama, sementara pemerintahan Iran tetap bertahan dan kelompok-kelompok sekutunya masih aktif melakukan perlawanan. Hubungan Netanyahu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan disebut mulai memanas akibat konflik tersebut.
Selama lebih dari 30 tahun, Netanyahu berulang kali memperingatkan bahwa Iran merupakan ancaman utama bagi keberlangsungan Israel. Pada 28 Februari lalu, ia akhirnya meluncurkan operasi militer besar terhadap Republik Islam Iran dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Perang Iran Tak Berjalan sesuai Rencana Netanyahu
Netanyahu sebelumnya berhasil meyakinkan Trump bahwa perang terhadap Iran dapat membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran. Menurut pandangannya, operasi itu diperlukan untuk menghapus ancaman Iran terhadap Israel.
Baca Juga : Trump Ngamuk saat Wawancara, Tinggalkan Studio Mendadak! Kenapa?
Namun, laporan Financial Times yang dikutip Senin (8/6/2026) menyebut strategi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Pemerintah Iran masih mampu bertahan dan bahkan tetap dapat melancarkan serangan terhadap Israel.
Gelombang rudal Iran terbaru ke wilayah Israel disebut sebagai respons atas serangan Israel di Beirut selatan. Israel kemudian membalas dengan menggempur sejumlah target di Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump tampak berusaha menahan konflik agar tidak semakin luas. Ia bahkan menegaskan bahwa keputusan terkait kebijakan AS tetap berada di tangannya.
“Saya yang membuat semua keputusan. Dia (Netanyahu) tidak membuat keputusan.”
Dilema Netanyahu
Tekanan dari Trump membuat Netanyahu berada dalam posisi sulit. Jika menghentikan operasi terhadap Iran dan Hizbullah, ia berisiko dianggap lemah oleh publik Israel maupun lawan-lawannya.
Namun, apabila ia tetap melanjutkan serangan dan mengabaikan permintaan Trump, hubungan strategis Israel dengan Amerika Serikat bisa terganggu.
Meski Israel kerap menegaskan mampu menentukan kebijakan pertahanannya sendiri, negara tersebut tetap sangat bergantung pada dukungan AS, terutama untuk kebutuhan persenjataan dan sistem pertahanan udara.
Konflik Lebanon jadi Bagian dari Krisis yang Lebih Besar
Selain menghadapi Iran, Israel juga masih terjebak konflik berkepanjangan melawan Hizbullah di Lebanon.
Netanyahu bersikeras bahwa Israel harus memiliki kebebasan penuh untuk menyerang Hizbullah, kelompok yang sebelumnya menyebabkan ribuan warga Israel di wilayah utara mengungsi.
Namun, operasi militer Israel di Lebanon juga memicu krisis kemanusiaan besar. Lebih dari satu juta warga Lebanon dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan tersebut.
Trump disebut telah menelepon Netanyahu dan meminta agar operasi militer Israel di Lebanon dikurangi. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Israel semakin besar.
Strategi Militer Netanyahu Berantakan
Financial Times menilai konflik melawan Iran, Hizbullah, dan Hamas mencerminkan kegagalan strategi militer Israel secara lebih luas.
Israel sendiri telah terlibat perang hampir tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023. Operasi militer di Gaza juga disebut memperburuk citra Israel di mata internasional, termasuk munculnya tuduhan dugaan genosida yang tengah dipertimbangkan Mahkamah Internasional.
Meski demikian, Netanyahu sebelumnya tetap mengklaim Israel berada di jalur kemenangan.
Baca Juga : Presiden Kuba Tuding Trump Siapkan 3 Skenario Tekan Havana
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada September lalu, ia menyebut Israel telah menghancurkan Hamas, melumpuhkan Hizbullah, serta merusak program rudal dan nuklir Iran.
Namun, klaim tersebut kini mulai dipertanyakan. Hamas masih bertahan di Gaza, Hizbullah tetap menjadi kekuatan besar di Lebanon, dan Iran masih mampu meluncurkan serangan menggunakan rudal maupun drone ke wilayah Israel.
