Trump Ancam Gugat New York Times soal Laporan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap pemberitaan The New York Times terkait perang Iran.
Trump menilai laporan media tersebut menggambarkan situasi Iran secara keliru dan meremehkan dampak konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (21/6/2026) malam, Trump bahkan menyebut laporan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan.
“Cara New York Times yang korup dan gagal memberitakan kisah tentang Iran yang sangat terpukul dan babak belur, melalui FAKTA PALSU & DIBUAT-BUAT, menurut saya adalah ‘PENGKHIANATAN’,” tulis Trump.
Ia juga mengancam akan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum dan memasukkan pemberitaan New York Times ke dalam gugatan yang sedang dipersiapkannya.
“Saya akan menambahkan semua pemberitaan palsu dan konyol mereka ke dalam gugatan miliaran dollar saya terhadap mereka. Mereka adalah kriminal!”
Baca Juga: Sanksi Minyak Iran Dicabut AS, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Pelayaran
Trump Klaim Iran Mengalami Kerusakan Besar
Kemarahan Trump dipicu oleh artikel New York Times berjudul “What Changed After Almost 4 Months of War? Analysts Say Not Much” yang menyebut perang hanya membawa sedikit perubahan terhadap kondisi strategis kawasan.
Penilaian tersebut bertentangan dengan klaim Trump yang menyatakan Iran mengalami kerusakan besar akibat konflik.
Dalam unggahan lain pada hari yang sama, Trump membantah kesimpulan artikel tersebut dan menegaskan bahwa kemampuan militer serta ekonomi Iran telah terpukul berat.
Ia menulis, “Benarkah? Militer mereka SUDAH SELESAI, angkatan laut mereka SUDAH HILANG, angkatan udara mereka SUDAH HILANG, pangkalan peluncuran, rudal, drone, dan produksi semuanya hampir HILANG.”
Trump juga mengklaim dua lapisan kepemimpinan utama Iran telah hilang, inflasi melonjak hingga 250 persen, ekonomi negara itu mengalami kerusakan serius, dan banyak personel militer tidak menerima pembayaran.
Selain itu, ia menyebut Selat Hormuz kembali terbuka, ekspor minyak kembali berjalan, serta pasar saham dan lapangan kerja Amerika Serikat berada pada level tertinggi.
“Itulah yang BERUBAH, kalian para pengecut yang korup dan tidak etis, dan masih banyak lagi!”
Kesepakatan AS-Iran Masih Menuai Keraguan
Perselisihan antara Trump dan New York Times terjadi di tengah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.
Kedua negara sebelumnya menyepakati nota kesepahaman yang mencakup penghentian permanen operasi militer dan dimulainya pembicaraan selama 60 hari guna mencapai kesepakatan final mengenai masa depan program nuklir Iran.
Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz serta membuang persediaan uranium yang telah diperkaya.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat berkomitmen menyiapkan rencana senilai sedikitnya 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.350 triliun untuk mendukung rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran, sekaligus mencabut sejumlah sanksi dan membekukan sebagian aset negara tersebut.
Namun, implementasi kesepakatan itu kembali dipertanyakan setelah militer Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup sebagai respons atas serangan udara Israel di Lebanon.
Baca Juga: Selat Hormuz Diklaim Dikendalikan Iran usai Damai dengan AS
