PBB Soroti Visa Piala Dunia 2026, AS Diserang Kritik
Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Türk mendesak Amerika Serikat untuk meninjau ulang kebijakan imigrasi menjelang Piala Dunia FIFA 2026.
Sorotan dari PBB muncul setelah sejumlah suporter, ofisial tim, hingga salah satu wasit elite dunia dilaporkan tidak bisa masuk ke wilayah AS akibat masalah visa yang dipicu kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.
Turnamen edisi 2026 menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya digelar bersama oleh tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan total 48 negara peserta dan jutaan penggemar sepak bola dari seluruh dunia.
Baca Juga : NATO Mulai Dipertanyakan, Kepercayaan Eropa ke Trump Berkurang
Namun, kebijakan imigrasi AS memicu kontroversi setelah wasit asal Somalia, Omar Artan, yang dikenal sebagai salah satu pengadil lapangan top di Afrika, dilaporkan ditolak masuk ke negara tersebut.
Soroti Isu Profil Rasial
Volker Turk berharap isu sensitif seperti racial profiling dan penegakan hukum imigrasi yang dinilai terlalu keras tidak merusak semangat pesta sepak bola dunia.
“Saya sangat berharap akan ada perubahan besar dalam cara penegakan hukum imigrasi memengaruhi hak asasi manusia dan martabat manusia,” ujar Turk kepada media, dikutip AFP, Rabu (10/6/2026).
“Secara khusus untuk momentum Piala Dunia ini, telah terjadi perubahan kebijakan yang sayangnya kita lihat mulai diberlakukan, terutama oleh pihak AS,” tambahnya.
Turk juga menyerukan agar praktik dehumanisasi terhadap migran, pengungsi, dan pencari suaka di berbagai negara segera dihentikan.
Piala Dunia 2026 di Depan Mata
Piala Dunia FIFA 2026 akan dimulai di Estadio Azteca pada Kamis (11/6/2026), dengan laga pembuka mempertemukan Meksiko melawan Afrika Selatan.
Di sisi lain, konflik perang AS-Israel melawan Iran turut menjadi perhatian besar menjelang turnamen berlangsung.
Baca Juga : Eks CIA Tuduh Trump dan Israel Sabotase Diplomasi Iran
Tim nasional Iran yang dijadwalkan memainkan tiga laga fase grup di AS akhirnya memindahkan pusat latihan mereka ke Meksiko akibat situasi konflik dan persoalan visa.
Federasi sepak bola Iran sebelumnya mengungkapkan bahwa alokasi tiket untuk pendukung mereka dicabut. Selain itu, beberapa staf tim juga dilaporkan gagal memperoleh visa masuk ke AS.
Pemerintah Iran mengecam langkah tersebut dan menilai kebijakan itu bersifat sengaja serta diskriminatif.
