Perang Iran Tak Sesuai Rencana? Laporan Intelijen AS Bikin Geger
Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin intens memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas operasi militer tersebut. Sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat justru menunjukkan bahwa perang kemungkinan tidak akan mampu menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Kajian intelijen terbaru bahkan menilai upaya pergantian rezim yang menjadi salah satu tujuan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi sulit tercapai, meskipun operasi militer terus berlanjut.
Baca Juga: Filipina Ubah Sistem Kerja Jadi 4 Hari Imbas Krisis Energi Memanas
Intelijen AS Nilai Rezim Iran Sulit Digulingkan
Laporan The Washington Post mengungkap hasil tinjauan intelijen rahasia dari National Intelligence Council yang menyimpulkan bahwa perang terhadap Iran kecil kemungkinan dapat menjatuhkan struktur kekuasaan yang saat ini berkuasa di negara tersebut.
Kajian yang diselesaikan pada pertengahan Februari itu memaparkan dua kemungkinan skenario tindakan yang dapat diambil Amerika Serikat. Namun dalam kedua skenario tersebut, hasil akhirnya diperkirakan tidak jauh berbeda.
Menurut laporan tersebut, pemerintahan Iran kemungkinan besar tetap akan menjalankan mekanisme suksesi kepemimpinan jika terjadi pergantian pemimpin tertinggi.
Para pejabat intelijen juga menilai peluang kelompok oposisi untuk mengambil alih kekuasaan di Iran sangat kecil.
Di sisi lain, sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres juga menyampaikan kekhawatiran terkait dampak perang yang terus berlanjut. Mereka memperingatkan bahwa kampanye udara terhadap Iran mulai menguras persediaan senjata tertentu milik Amerika Serikat.
Kekhawatiran tersebut disampaikan dalam sebuah pengarahan tertutup antara pejabat pemerintahan Trump dan anggota Kongres pada awal pekan ini.
Baca Juga: Warga Mulai Panic Buying BBM Dampak Perang Timur Tengah
Serangan Militer Terus Berlanjut
Meski jalur diplomatik masih dibicarakan, Amerika Serikat dan Israel tetap melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Pekan lalu, serangan militer dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah tokoh senior lainnya.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel, instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, serta beberapa negara regional yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Pemerintahan Trump berulang kali menyatakan bahwa Iran mencoba membuka pembicaraan gencatan senjata sejak konflik meningkat.
Namun, sejumlah laporan lain justru menunjukkan bahwa situasi diplomatik masih jauh dari kesepakatan damai.
Ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berlangsung lama. Kelompok garis keras anti-Iran di Amerika Serikat selama bertahun-tahun mendorong terjadinya perang untuk mengganti rezim di Teheran.
Mereka menilai program nuklir Iran sudah mendekati kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir. Sementara itu, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya hanya bertujuan untuk kepentingan sipil.
Ketegangan meningkat tajam setelah Israel dan Amerika Serikat membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu. Meski perundingan sempat berlangsung, serangan besar kembali diluncurkan pada pekan lalu.
Dalam sepekan terakhir, berbagai target di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk gedung pemerintahan dan instalasi militer.
Namun sejumlah laporan juga menyebut bahwa serangan tersebut mengenai fasilitas sipil seperti rumah sakit dan sekolah.
Pada hari pertama kampanye pengeboman, sebanyak 168 siswi dilaporkan tewas setelah sekolah mereka terkena serangan langsung. Kantor berita The Associated Press melaporkan bahwa serangan tersebut kemungkinan berasal dari militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Rapat Maraton Digelar Prabowo, Fokus Soal Timur Tengah-Mudik
Trump Klaim Operasi Militer Berhasil
Presiden Donald Trump turut membahas operasi militer tersebut saat menghadiri KTT Shield of the Americas di Florida pada Sabtu lalu.
Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden Iran menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan misil yang terjadi di kawasan tersebut.
“Kami melakukan dengan sangat baik di Iran, Anda bisa melihat hasilnya,” kata Trump, dilansir dari The Guardian.
“Dan itu luar biasa. Kami telah menghancurkan 42 kapal angkatan laut mereka, beberapa di antaranya sangat besar, dalam tiga hari. Itu adalah akhir dari angkatan laut mereka. Kami menghancurkan angkatan udara mereka. Kami memutus komunikasi mereka dan semua telekomunikasi telah hilang.”
Trump juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Iran.
“Mereka adalah orang-orang yang buruk, benar-benar orang yang buruk,” ujarnya.
“Delapan bulan lalu mereka akan memiliki senjata nuklir. Dan mereka gila, dan mereka akan menggunakannya, jadi kami telah melakukan kebaikan untuk dunia.”
