Rusia Pecahkan Rekor Serangan Drone ke Ukraina pada Mei
Rusia mencatat lonjakan signifikan dalam serangan udara ke Ukraina sepanjang Mei 2026. Berdasarkan perhitungan AFP yang dirilis Senin (1/6/2026), Moskow meluncurkan sebanyak 8.150 drone jarak jauh selama bulan tersebut, jumlah tertinggi sejak konflik berlangsung.
Angka itu meningkat sekitar 24 persen dibandingkan April, menunjukkan intensitas serangan yang terus bertambah meski sebelumnya sempat muncul harapan perdamaian melalui gencatan senjata selama tiga hari.
Baca Juga : AS Layangkan Ancaman usai Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz
Namun, upaya tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kyiv dan Moskow justru saling menuduh melanggar kesepakatan dan meningkatkan serangan jarak jauh di berbagai wilayah.
Rusia Juga Gencarkan Serangan Rudal
Selain drone, Rusia tercatat menembakkan 211 rudal sepanjang Mei. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam hitungan bulanan sejak perang berlangsung.
Peningkatan serangan itu terjadi ketika Ukraina mendesak Amerika Serikat (AS) untuk segera menambah pasokan amunisi bagi sistem pertahanan udara Patriot yang digunakan menghadang serangan rudal Rusia.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Kyiv. Rudal Rusia menghantam sebuah bangunan hunian dan menyebabkan sekitar dua lusin orang kehilangan nyawa. Pada bulan yang sama, Moskow juga kembali menggunakan rudal balistik berkemampuan nuklir yang dikenal dengan nama Oreshnik untuk ketiga kalinya dalam konflik ini.
“Kyiv mencegat sekitar 91% dari semua drone dan rudal yang masuk pada bulan Mei,” menurut data angkatan udara.
“Hal itu menunjukkan bagaimana Ukraina telah mempelopori sistem untuk mencegat drone jarak jauh tetapi tetap sangat bergantung pada sekutu Barat untuk melawan rudal,” tambah AFP.
Ukraina Khawatir Persediaan Pertahanan Menipis
Di sisi lain, pemerintah Ukraina terus mengingatkan bahwa stok sistem pertahanan udara dan amunisi mereka semakin berkurang. Presiden Volodymyr Zelenskyy bahkan berulang kali meminta dukungan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu menghadapi serangan rudal Rusia.
Kondisi tersebut diperparah oleh konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Situasi itu membuat sejumlah sekutu AS harus menggunakan banyak amunisi pertahanan udara guna melindungi berbagai fasilitas penting di kawasan Teluk.
Baca Juga : Netanyahu Klaim India Jadi Pendukung Kuat Israel di Asia
Sementara itu, Trump yang kembali menduduki Gedung Putih sebelumnya berjanji akan segera mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Namun hingga kini proses negosiasi belum menunjukkan kemajuan berarti karena Moskow dan Kyiv masih berbeda pandangan terkait tuntutan wilayah yang diajukan Rusia.
Meningkatnya jumlah serangan drone dan rudal sepanjang Mei menunjukkan bahwa konflik antara Rusia dan Ukraina masih jauh dari penyelesaian. Meski berbagai upaya diplomasi terus dilakukan, perbedaan kepentingan antara kedua pihak membuat jalan menuju perdamaian masih dipenuhi tantangan besar.

[…] Rusia Pecahkan Rekor Serangan Drone ke Ukraina pada Mei […]