Tiba-Tiba Israel Ancam Negara Arab, Ada Apa?
Peringatan serangan besar-besaran dilayangkan Israel kepada Lebanon, termasuk menargetkan infrastruktur sipil seperti bandara, apabila kelompok Hezbollah ikut terlibat dalam kemungkinan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada Selasa, dua pejabat senior Lebanon mengungkapkan, bahwa peringatan tersebut disampaikan secara tidak langsung melalui jalur diplomatik. Hingga laporan ini dimuat AFP pada Rabu (25/2/2026), kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, maupun pihak kepresidenan Lebanon belum memberikan tanggapan resmi.
Baca Juga : Ketua Partai Buruh Berikan Tanggapan Terkait Perjanjian Dagang RI-AS
Ketegangan ini dipicu rencana pembicaraan nuklir putaran ketiga antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis mendatang. Pertemuan ini juga sudah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi.
Sejak setahun terakhir, upaya pelucutan persenjataan Hezbollah telah dilakukan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam. Ia meminta kelompok itu tidak menyeret Lebanon ke dalam konflik baru.
Seruan tersebut muncul setelah perang pada tahun 2024 antara Israel dan Hezbollah yang menewaskan pemimpin kelompok itu, Hassan Nasrallah, dan ribuan anggotanya, serta menghancurkan sebagian besar persenjataan mereka.
“Petualangan (Israel) di Gaza memberikan dampak biaya yang besar bagi Lebanon. Kami berharap kita tidak akan terseret ke dalam petualangan lainnya,” kata Salam dalam wawancara dengan surat kabar Nida al-Watan.
Garda Revolusi Iran pada 1982 diyakini terlibat dalam pendirian Hezbollah, sebelumnya menyatakan tidak akan bersikap netral. Pemimpin barunya, Naim Qassem, juga menegaskan kesiapan kelompoknya menghadapi potensi agresi.
“Kami bertekad untuk membela diri. Kami akan memilih pada waktu yang tepat bagaimana cara bertindak, apakah akan melakukan intervensi atau tidak,” ujar Qassem dalam pidato tersebut.
Situasi ini membuat Departemen Luar Negeri AS menarik personel pemerintah yang tidak esensial, beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Langkah tersebut telah dikonfirmasi seorang pejabat senior pada Senin.
Walaupun AS telah melakukan mediasi antara Israel dan Lebanon, dan telah menyepakati gencatan senjata pada 2024, Israel tetap masih melancarkan serangan terhadap target yang disebutnya milik Hezbollah. Menurut data otoritas Lebanon, sekitar 400 orang tewas akibat serangan tersebut.
Di sisi lain, Hezbollah menyatakan tetap mematuhi gencatan senjata di wilayah selatan Lebanon. Pada Januari, militer Lebanon yang didukung AS menyatakan telah mengambil alih kendali operasional di wilayah selatan, sebagai bagian dari upaya memastikan monopoli senjata berada di tangan negara. Namun, Israel menilai langkah tersebut sebagai perkembangan awal yang positif, tetapi belum memadai.
Baca Juga : Trump Berikan Ancaman bagi Negara yang Batalkan Perjanjian Dagang
