Trump Sebut Iran “Teroris”, Klaim Habisi Puluhan Ribu Warga Sipil
Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan keras terhadap Iran dalam pidato terkait Operasi Epic Fury, Kamis (2/4/2026), dengan menuding pemerintah Teheran melakukan pembunuhan massal terhadap rakyatnya sendiri.
Trump menyebut angka korban jiwa dalam aksi protes di Iran mencapai puluhan ribu dan menjadikannya sebagai dasar urgensi tindakan militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Mengapa Negara Arab Dukung invasi Darat AS ke Iran?
Trump Tuduh Iran Bunuh 45.000 Warga
Dalam pidatonya, Trump menyoroti tingginya jumlah korban sebagai bukti bahwa pemerintah Iran telah melampaui batas kemanusiaan.
“Rezim ini juga baru-baru ini membunuh 45.000 rakyat mereka sendiri yang melakukan protes di Iran, 45.000 tewas. Teroris ini jika memiliki senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tidak bisa ditoleransi,” ujar Trump.
Ia menegaskan komitmennya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, yang menurutnya berpotensi memperluas ancaman global.
Trump juga mengingatkan rekam jejak permusuhan Iran terhadap Amerika Serikat, termasuk keterlibatan dalam serangan terhadap pasukan AS melalui kelompok proksi.
“Rezim antagonis yang paling kejam akan bebas melakukan kampanye teror, pemaksaan, penaklukan, dan pembunuhan massal dari balik perisai nuklir. Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi,” tegas dia.
Klaim Keberhasilan Militer dan Eskalasi Konflik
Trump turut menyinggung langkah militernya pada masa jabatan pertama, termasuk operasi yang menewaskan jenderal tinggi Iran.
“Saya melakukan banyak hal selama dua masa jabatan saya di kantor untuk menghentikan upaya Iran mendapatkan senjata nuklir. Pertama, yang mungkin paling penting, saya membunuh sang Jenderal di masa jabatan pertama saya,” tutur Trump.
Ia menilai tindakan tersebut penting untuk menahan kekuatan Iran di kawasan.
Operasi Epic Fury sendiri diluncurkan sebagai respons atas meningkatnya aktivitas pengayaan uranium Iran.
Sebagai balasan, Iran melakukan serangan ke wilayah Israel serta menargetkan kepentingan AS di kawasan Teluk, termasuk menutup Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga: 7 Poin Kunci Pidato Trump di Gedung Putih, Perang Iran Segera Berakhir?
