Demo Prancis Picu Isu Kebangkitan Rompi Kuning
Demonstrasi nasional di Prancis pada Sabtu (17/10/2026) yang dipicu persoalan biaya hidup berkembang menjadi salah satu aksi massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan Reuters, gelombang protes tersebut turut mengingatkan publik pada gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest) yang pernah mengguncang pemerintahan Presiden Emmanuel Macron pada 2018.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez memperkirakan sekitar 550.000 orang turun ke jalan di berbagai wilayah. Sementara itu, serikat buruh CGT menyebut jumlah peserta demonstrasi mencapai 800.000 orang.
Aksi yang semula dipelopori pelajar sekolah menengah untuk memprotes kondisi pendidikan kemudian meluas ke berbagai persoalan, mulai dari kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar hingga ketimpangan ekonomi serta buruknya layanan publik.
Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai. Namun, di sejumlah lokasi, kelompok demonstran melakukan kekerasan dengan membakar bangunan publik, merusak fasilitas, menjarah toko, dan terlibat bentrokan dengan polisi.
Protes Pelajar Menjadi Gerakan Nasional
Gelombang demonstrasi berawal pada pertengahan September di sebuah sekolah menengah di Creteil, kawasan pinggiran Paris. Para pelajar menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi sekolah yang rusak, ruang kelas yang sesak, kekurangan tenaga pengajar, serta ketimpangan dalam sistem pendidikan.
Baca Juga : Prancis Ricuh, Puluhan Toko Kena Jarahan!
Protes tersebut kemudian meluas ke ribuan sekolah menengah atau lycees di berbagai wilayah Prancis. Guru, mahasiswa, dan serikat buruh turut bergabung sehingga tuntutan yang disuarakan semakin beragam.
Pemerintah berusaha meredakan ketegangan dengan membatalkan rencana kenaikan sejumlah biaya pendaftaran pendidikan tinggi. Selain itu, pemerintah menjanjikan penempatan 3.000 guru pengganti di sekolah menengah.
Meski demikian, langkah tersebut dianggap belum mampu menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan. Ketidakpuasan masyarakat pun terus berkembang dan meluas ke isu ekonomi serta layanan publik.
Aktivis Rompi Kuning Kembali Turun ke Jalan
Kehadiran sejumlah aktivis Rompi Kuning dalam demonstrasi 17 Oktober memperkuat kemiripan aksi tersebut dengan gerakan protes pada 2018. Saat itu, gerakan Rompi Kuning muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar, sebelum berkembang menjadi perlawanan yang lebih luas terhadap ketimpangan ekonomi dan kebijakan pemerintahan Macron.
Sebutan Rompi Kuning berasal dari rompi keselamatan berwarna kuning terang yang diwajibkan tersedia di kendaraan pengemudi di Prancis. Para demonstran kemudian menjadikan atribut tersebut sebagai simbol gerakan mereka.
Menjelang demonstrasi terbaru, situs 17octobregiletjaune.net mencatat lebih dari 1.750 titik aksi yang direncanakan di seluruh Prancis.
Jerome Rodrigues, salah satu tokoh penting gerakan Rompi Kuning, sebelumnya mengajak masyarakat untuk mendukung perjuangan pelajar melalui sebuah pesan video.
“Pelajar sekolah menengah sedang memperjuangkan masa depan mereka. Pekerja berjuang agar dapat hidup dari hasil kerja mereka. Para pensiunan berjuang mempertahankan martabat mereka. Jalan kita mungkin berbeda, tetapi kekhawatiran kita dapat bertemu,” kata Rodrigues dalam pesan video.
Pada Sabtu, sejumlah demonstran terlihat mengenakan rompi kuning dan memblokir jalan di Paris. Pemandangan tersebut mengingatkan kembali pada aksi massa yang berlangsung pada 2018.
Namun, hubungan antara demonstrasi terbaru dan gerakan Rompi Kuning belum sepenuhnya jelas. France24 melaporkan bahwa Rodrigues sehari sebelum aksi menyatakan kelompoknya bukan pihak yang memprakarsai seruan demonstrasi 17 Oktober.
“Tidak ada Rompi Kuning yang berada di balik protes 17 Oktober,” katanya.
Rodrigues menjelaskan bahwa persoalan harga bahan bakar dan ketidakpuasan masyarakat kerap membuat demonstrasi dengan isu serupa langsung dikaitkan dengan gerakan Rompi Kuning.
Jumlah Peserta Lampaui Puncak Gerakan 2018
Reuters melaporkan bahwa jumlah peserta demonstrasi 17 Oktober melampaui massa yang terlibat pada puncak gerakan Rompi Kuning. Meski demikian, jumlah tersebut masih jauh di bawah mobilisasi besar pada 2023 yang menentang kebijakan Macron menaikkan usia pensiun.
Besarnya partisipasi dalam aksi terbaru menunjukkan bahwa persoalan yang sebelumnya memicu gerakan Rompi Kuning kembali menjadi sumber keresahan masyarakat. Namun, demonstrasi kali ini memiliki latar belakang dan cakupan tuntutan yang berbeda.
Jika gerakan 2018 berawal dari penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar, aksi 2026 dipicu oleh persoalan pendidikan sebelum berkembang menjadi protes terhadap biaya hidup dan kualitas layanan publik.
Rodrigues menilai berbagai kelompok masyarakat menghadapi persoalan yang saling berhubungan. Pekerja, keluarga, dan pensiunan sama-sama merasakan tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari serta bahan bakar.
Sementara itu, para pelajar menyoroti kerusakan bangunan sekolah, kekurangan guru, dan padatnya ruang kelas. Mereka juga mengkhawatirkan kemampuan sistem pendidikan dalam menjamin kesempatan kerja serta meningkatkan mobilitas sosial.
Demonstrasi Berujung Kerusuhan di Sejumlah Kota
Besarnya jumlah demonstran turut diwarnai insiden kekerasan di beberapa kota. Di Limoges, gedung balai kota dilaporkan terbakar. Di Marseille, sekelompok demonstran berpakaian hitam menerobos balai kota dan mencoret-coret bangunan menggunakan grafiti.
Sementara itu, kantor pariwisata di Lyon juga menjadi sasaran pembakaran. Di Paris, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kelompok demonstran yang sebagian besar terdiri dari anak muda.
Sejumlah toko, bank, dan kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan atau dibakar dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyebut sekitar 1.200 orang telah ditangkap terkait rangkaian aksi tersebut. Ia menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan kekerasan digunakan untuk memaksakan kepentingan politik menjelang pemilihan presiden pada 2027.
Presiden Macron juga berjanji menindak para pelaku penyerangan. Ia menyerukan persatuan masyarakat dalam menghadapi pihak-pihak yang berupaya merusak institusi negara sekaligus menghalangi warga menyampaikan aspirasi secara damai.
Apakah Gerakan Rompi Kuning Benar-Benar Bangkit?
Meski memperlihatkan sejumlah kemiripan dengan gerakan 2018, demonstrasi 17 Oktober belum dapat dipastikan sebagai kebangkitan penuh Rompi Kuning. Salah satu perbedaan utamanya adalah aksi terbaru tidak sejak awal dipimpin oleh kelompok tersebut.
Baca Juga : Ratusan Orang Ditangkap Imbas Kerusuhan Demo di Prancis
Mobilisasi kali ini bermula dari protes pelajar, kemudian melibatkan guru, mahasiswa, serikat buruh, kelompok lingkungan, serikat petani, dan sejumlah aktivis Rompi Kuning.
Bahkan, beberapa tokoh lama gerakan tersebut sempat meragukan arah demonstrasi terbaru. Priscilla Ludosky, tokoh yang petisinya pada 2018 untuk menurunkan harga bahan bakar mengumpulkan lebih dari satu juta tanda tangan dan ikut memicu gerakan Rompi Kuning, sebelumnya mempertanyakan pihak yang menginisiasi seruan aksi 17 Oktober.
Menurut Ludosky, gerakan pada 2018 membutuhkan waktu lebih dari enam bulan untuk membangun momentum sebelum berkembang menjadi mobilisasi besar.
Perbedaan lainnya terlihat pada hubungan gerakan dengan partai politik. Rodrigues mengatakan gerakan Rompi Kuning pada 2018 tidak pernah benar-benar dikuasai partai politik karena para politisi yang berusaha masuk umumnya mendapat penolakan.
Sebaliknya, Rodrigues menilai pelajar sekolah menengah yang terlibat dalam demonstrasi terbaru memiliki kedekatan lebih besar dengan sejumlah partai politik. Kondisi tersebut membuat gerakan kali ini dinilai lebih terorganisasi secara institusional dibandingkan aksi spontan Rompi Kuning sebelumnya.
Meski demikian, Rodrigues berharap mobilisasi terbaru dapat membuka jalan bagi gelombang protes baru dan memberi kesempatan kepada mantan anggota Rompi Kuning untuk melanjutkan perjuangan mereka.
“Sebagai Rompi Kuning, kami masih membawa rasa frustrasi karena belum menyelesaikan perjuangan,” katanya.
“Barangkali kami menunggu gelombang baru mobilisasi rakyat yang bisa kami ikuti, sehingga kami dapat menyelesaikan apa yang telah kami mulai.”

[…] Demo Prancis Picu Isu Kebangkitan Rompi Kuning […]
[…] Demo Prancis Picu Isu Kebangkitan Rompi Kuning […]
[…] Demo Prancis Picu Isu Kebangkitan Rompi Kuning […]