AS-Iran Kembali Saling Serang, Timur Tengah Memanas
Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang di berbagai wilayah Timur Tengah selama dua hari berturut-turut. Situasi ini semakin memperburuk gencatan senjata rapuh yang sebelumnya disepakati kedua negara pada April 2026.
Mengutip BBC, Kamis (11/6/2026), Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan telah menyelesaikan serangkaian “serangan pertahanan diri” yang menyasar situs militer, fasilitas pengawasan, dan radar di wilayah selatan Iran.
Serangan tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa pasukannya akan kembali menyerang Iran karena menilai Teheran terlalu lama mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Di Tengah Harga Naik, Trump Dicibir usai Bilang “Saya Suka Inflasi”
Iran Serang Aset Militer AS di Kawasan
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah.
Pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait kembali menjadi sasaran serangan Iran untuk hari kedua secara beruntun.
Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke pusat komando AS di Jordan, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan sirene serangan udara sempat diaktifkan pada malam hari. Di sisi lain, Angkatan Darat Kuwait mengungkapkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah target udara musuh.
Kuwait juga mengumumkan penutupan sementara wilayah udaranya menyusul serangan yang terjadi.
Selat Hormuz Diklaim Ditutup
Dalam perkembangan terbaru, IRGC menyebut telah menyerang dua kapal tanker minyak yang melintasi Strait of Hormuz, meski belum ada konfirmasi independen terkait klaim tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah media pemerintah Iran melaporkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh jenis kapal.
Namun demikian, Centcom menyatakan kapal-kapal komersial masih terus keluar-masuk melalui jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketegangan di kawasan langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan dunia naik menjadi sekitar 95 dollar AS per barel setelah sebelumnya menguat sekitar 2 persen.
Beberapa jam sebelum serangan terbaru dilancarkan, Trump telah menyampaikan peringatan keras kepada Iran.
“Kami menyerang mereka dengan keras kemarin dan kami akan menyerang mereka dengan keras lagi hari ini,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa para pemimpin Iran dinilai terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan.
“Para pemimpin Iran terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan,” tambahnya.
Menurut Trump, Iran berpotensi kembali menjadi sasaran serangan apabila kesepakatan damai tidak segera tercapai.
Senada dengan itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Iran telah diberi kesempatan untuk mencapai kesepakatan, tetapi tidak memanfaatkannya.
Karena itu, ia menegaskan operasi militer terhadap fasilitas-fasilitas penting di Iran masih dapat berlanjut.
Baca Juga: Afghanistan Dibombardir Pakistan Lagi, 13 Sipil Tewas
Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan maupun ancaman dari pihak mana pun.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menuding Amerika Serikat telah merusak proses diplomasi melalui berbagai pesan yang dinilai saling bertentangan.
Sebagai informasi, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April 2026 yang awalnya dirancang berlangsung selama dua pekan.
Meski demikian, kedua negara masih beberapa kali terlibat baku tembak sporadis tanpa kembali ke perang terbuka berskala penuh.
Upaya mediasi terbaru antara Washington dan Teheran juga dilaporkan mengalami kebuntuan. Ketegangan meningkat setelah sebuah helikopter militer AS ditembak jatuh dalam insiden yang dituduhkan kepada Iran.
Sebagai respons, IRGC kemudian melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
