Intelijen AS Sebut Iran Kini Mampu Menutup Selat Hormuz Kapan Saja
Badan-badan intelijen Amerika Serikat, kini menyimpulkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menutup akses ke Selat Hormuz secara efektif kapanpun mereka menginginkannya.
Temuan tersebut diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui hasil penilaian intelijen itu kepada CNN pada Selasa (17/6/2026). Penilaian terbaru ini menunjukkan bahwa konflik yang baru saja terjadi telah membawa perubahan besar terhadap peta kekuatan geopolitik di kawasan.
Meski kerangka kesepakatan antara Washington dan Teheran dijadwalkan ditandatangani pada Jumat (19/6/2026), Iran dinilai telah membuktikan kemampuannya mengendalikan akses ke Selat Hormuz selama konflik berlangsung.
Menurut CNN, hasil evaluasi intelijen AS menyebut kemampuan tersebut tetap dapat digunakan kembali kapan saja di masa mendatang.
“Kita kini secara de facto telah menyerahkan kendali atas selat itu kepada Iran, sebuah senjata yang lebih dahsyat dari senjata nuklir mana pun,” kata salah satu sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS tersebut kepada CNN.
Baca Juga : Trump Percaya Israel Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Sumber itu menilai perang telah mengubah cara pandang Teheran secara mendasar terkait pemanfaatan strategi serupa pada masa mendatang.
Senjata Ekonomi Iran
Selain menunjukkan kemampuan menguasai jalur pelayaran di Selat Hormuz, Iran juga dinilai berhasil memperlihatkan kapasitasnya dalam melancarkan serangan terukur terhadap infrastruktur energi negara-negara Teluk.
Menurut sumber kedua yang mengetahui hasil penilaian tersebut, kemampuan itu dapat menjadi instrumen tekanan tambahan yang sewaktu-waktu digunakan Iran.
“Ini adalah alat lain yang bisa Iran manfaatkan ke depan,” ujar sumber itu.
Fakta bahwa Amerika Serikat harus melakukan negosiasi intensif untuk membuka kembali akses pelayaran di selat tersebut dinilai semakin memperkuat posisi tawar Teheran.
Menanggapi situasi itu, seorang pejabat senior AS mengatakan kepada CNN bahwa Iran tidak akan memperoleh manfaat dari kerangka kesepakatan yang sedang disusun apabila Selat Hormuz tidak tetap terbuka.
“Jika Iran menepati janji, bantuan akan mengalir dan daya tawar Amerika tetap terjaga sepanjang prosesnya,” kata pejabat itu.
Sumber lain yang mengetahui isi kesepakatan tersebut mengakui Iran memang sempat berupaya mengganggu kelancaran distribusi minyak dan gas melalui selat itu. Namun, tindakan tersebut juga memicu kekhawatiran China dan negara-negara Teluk.
“Iran menanggung konsekuensinya ketika melakukan itu,” ujarnya.
Menurut sumber tersebut, langkah serupa pada masa mendatang berpotensi menimbulkan kerugian yang justru akan dirasakan Iran sendiri.
Stok Senjata Iran Masih Banyak
Salah satu faktor yang membuat Iran percaya diri menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tekanan adalah karena mereka masih memiliki persediaan persenjataan dalam jumlah besar.
Persenjataan tersebut meliputi rudal, drone, peluncur rudal, serta ratusan kapal cepat yang mampu mengintimidasi kapal-kapal yang melintas maupun digunakan untuk menebar ranjau di jalur pelayaran.
Selain itu, Iran disebut berhasil memulihkan kapasitas industri pertahanannya lebih cepat dibandingkan perkiraan Amerika Serikat dan telah kembali memproduksi drone baru.
Sejumlah sumber juga mengungkapkan bahwa Iran tengah mempersiapkan opsi yang disebut sebagai “nuklir ekonomi” apabila negosiasi dengan Washington mengalami jalan buntu.
Dalam skenario tersebut, Iran dapat memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu atau bahkan menutup akses di Selat Bab-el-Mandeb.
Selat Bab-el-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan selama ini menjadi rute alternatif perdagangan global ketika terjadi gangguan di Selat Hormuz.
“Jika Bab-el-Mandeb juga ditutup bersamaan dengan Selat Hormuz, ekonomi global akan benar-benar hancur,” kata salah satu sumber.
Sumber kedua yang memahami hasil penilaian intelijen AS menyebut kelompok Houthi memang belum kembali melancarkan serangan besar terhadap kapal-kapal AS maupun Eropa. Namun mereka telah menyatakan kapal berbendera atau milik Israel sebagai target yang sah.
Menurut sumber tersebut, perluasan sasaran di luar kapal Israel akan menjadi bentuk eskalasi yang sangat serius.
Hingga kini, Iran dinilai masih menahan kelompok Houthi agar tidak mengambil langkah tersebut karena dapat mengganggu proses perundingan damai yang sedang berlangsung.
Kalkulasi yang Keliru
Pada tahap awal konflik, pemerintahan Donald Trump disebut meremehkan kemungkinan Iran benar-benar menutup Selat Hormuz.
Para pejabat AS saat itu meyakini langkah tersebut akan lebih merugikan kepentingan Iran dibandingkan Amerika Serikat.
Selain itu, Washington juga menaruh keyakinan besar bahwa China akan menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mencegah penutupan jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga : AS-Iran Jadwalkan Perundingan Final di Swiss
Dengan asumsi tersebut, Amerika Serikat lebih memilih memusatkan perhatian pada serangan terhadap target-target militer Iran dibandingkan mengalokasikan sumber daya untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Namun, hanya dalam hitungan hari setelah konflik dimulai, perhitungan tersebut dinilai terbukti keliru.
“Kehilangan kendali atas selat itu akan menjadi blunder terbesar era ini karena itu adalah kartu yang tidak bisa dilawan AS tanpa bertaruh habis-habisan,” kata sumber keempat yang terlibat dalam perencanaan militer perang tersebut.
“Kini tidak ada cara untuk memulihkan situasi selat tanpa mengerahkan kekuatan masif,” sambungnya.
Pejabat AS kini meyakini keputusan Iran menutup selat itu dipicu oleh pernyataan awal Trump yang menyebut tujuan perang adalah menggulingkan rezim di Teheran.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai ancaman eksistensial oleh Iran sehingga mendorong mereka mengambil langkah pertahanan yang lebih agresif.
“Iran sangat terukur dalam cara mereka bereaksi,” kata salah satu sumber.

[…] Intelijen AS Sebut Iran Kini Mampu Menutup Selat Hormuz Kapan Saja […]