AS dan Iran Jadwalkan Perundingan Damai Final di Swiss
Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan menuju kesepakatan damai komprehensif pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.
Pertemuan tersebut menjadi langkah penting setelah kedua negara menyepakati kerangka awal perdamaian yang bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.
Kabar mengenai perundingan itu muncul bersamaan dengan pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang sebelumnya terganggu akibat perang.
Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan upacara penandatanganan kesepakatan awal akan berlangsung di kawasan resor pegunungan Burgenstock yang menghadap Danau Lucerne.
Seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kerangka perjanjian sebenarnya telah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi, dan negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan proses menuju kesepakatan akhir akan segera dimulai.
“Kemungkinan besar pada Jumat, babak baru negosiasi antara Iran dan AS untuk mencapai kesepakatan final akan dimulai,” ujar Araghchi.
“Dalam perjanjian final tersebut, keputusan akan diambil terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi,” lanjutnya.
Ghalibaf dijadwalkan menghadiri upacara penandatanganan di Swiss, sementara delegasi AS akan dipimpin oleh Vance.
Vance bahkan menyebut Trump berpeluang hadir secara langsung dalam agenda tersebut.
Baca Juga: Iran Sebut Tetap Bisa Tarik Biaya Kapal di Selat Hormuz
Isu Nuklir dan Sanksi Jadi Fokus Utama
Perundingan selama 60 hari ke depan akan difokuskan pada dua isu yang masih menjadi perbedaan utama antara kedua negara, yakni program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi internasional.
AS dan Israel terus mendesak Iran untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
Di sisi lain, Teheran tetap mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan uranium sebagai bagian dari program nuklir nasional.
Kesepakatan awal yang tercapai saat ini merupakan hasil dari negosiasi tidak langsung yang dimediasi Pakistan dan Qatar selama beberapa pekan terakhir.
Proses tersebut sempat menghadapi berbagai hambatan menyusul sejumlah insiden keamanan yang terjadi setelah gencatan senjata pada April lalu.
Meski menyambut positif perkembangan terbaru, Araghchi mengaku Iran tetap berhati-hati dalam memandang proses perundingan.
“Kami memiliki sejarah komitmen yang dilanggar, kami memiliki sejarah perjanjian yang dirobek. Semua itu masih ada dalam benak kami,” katanya.
Sementara itu, Trump menyebut dokumen kesepakatan yang telah dicapai sebagai fondasi penting menuju perdamaian yang lebih luas.
“Ini adalah dokumen yang sangat kuat, dan saya ingin dokumen itu dipublikasikan. Mungkin cukup segera,” ujar Trump di sela-sela KTT G7 di Perancis.
Baca Juga: Usai Klaim Menang Perang Melawan Iran, Netanyahu Dapat Kritik
Konflik Lebanon Masih Jadi Ancaman
Di tengah optimisme menuju perdamaian, situasi keamanan di Lebanon masih menjadi perhatian utama.
Serangan terbaru Israel di Lebanon selatan memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat kembali meningkat dan memengaruhi jalannya perundingan.
Komando militer pusat Iran, Khatam al-Anbiya, memperingatkan Israel agar bersiap menghadapi respons atas serangan tersebut.
Menurut laporan kantor berita pemerintah Lebanon, serangan Israel menyasar sejumlah kendaraan di wilayah Mayfadoun dan Shukeen dekat Nabatieh yang mengakibatkan empat orang tewas.
Militer Israel menyatakan operasi dilakukan setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan di sekitar area operasi pasukannya.
Israel juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah roket dan melancarkan serangan balasan terhadap lokasi peluncurnya.
Konflik di Lebanon sendiri telah menjadi bagian dari eskalasi yang lebih luas sejak Maret lalu ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel.
Peneliti senior Middle East Institute, Ross Harrison, menilai perkembangan di Lebanon berpotensi menjadi tantangan terbesar bagi keberhasilan negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Vance menegaskan kesepakatan tersebut tidak akan melibatkan penggunaan dana pembayar pajak AS untuk Iran.
Meski demikian, media Iran melaporkan aset Iran senilai 12 miliar dollar AS yang selama ini dibekukan berpotensi segera dibebaskan.
Vance juga menyatakan bahwa Iran akan membuka akses bagi inspektur nuklir internasional sebagai bagian dari proses implementasi kesepakatan.
