MBG Wajib Sajikan Telur 3 Kali Seminggu untuk Stabilkan Harga
Pemerintah mengambil langkah intervensi untuk mengatasi anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak, khususnya di Jawa Timur, dengan mengintegrasikan pasokan dari peternak rakyat ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan ini disepakati dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Telur Ayam Ras, yang melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN), koperasi dan asosiasi peternak, serta sejumlah instansi terkait seperti Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Satgas Pangan.
Baca Juga: Fokus ke Wilayah 3T, BGN Hentikan Sementara Dapur MBG Baru
Telur Masuk Menu MBG Minimal 3 Kali Seminggu
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan, penggunaan telur dalam menu MBG akan ditetapkan minimal tiga kali dalam seminggu sebagai bagian dari upaya menyerap produksi peternak.
“Esensinya sama dengan Magetan, bagaimana semua bisa jalan, bagaimana semua bisa hidup. Dari sisi produsen, para peternak, bisa punya offtaker yang pasti yaitu SPPG,” kata Maino dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Dalam kesepakatan tersebut, asosiasi dan koperasi peternak di Jawa Timur juga akan memasok telur langsung ke dapur mitra SPPG dengan standar kualitas yang telah disepakati.
Transaksi pembelian ditetapkan dilakukan langsung kepada koperasi atau asosiasi peternak dengan harga minimal Rp 24.000 per kilogram, yang nantinya akan disesuaikan secara bertahap mengikuti Harga Acuan Pembelian (HAP).
Maino menjelaskan, produksi telur yang berlangsung setiap hari membuat pemerintah harus bergerak cepat untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat peternak.
“Setiap hari ayam itu bertelur, tidak bisa diberhentikan dulu. Artinya, kan mesti segera terserap,” tambah Maino.
SPPG Jadi Offtaker, Intervensi Harga Diperkuat
Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN Tengku Syahdana menegaskan bahwa SPPG akan berperan sebagai offtaker dalam rantai pasok bahan pangan, termasuk telur ayam ras.
Menurutnya, posisi ini membuat program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen stabilisasi harga di tingkat produsen.
“BGN di samping sebagai regulator, dia juga sebagai operator langsung di lapangan. Ketika terjadi gejolak harga yang anjlok atau naik, kita bisa melakukan stimulus intervensi stabilisasi harga,” tutur Tengku.
Baca Juga: Kejagung Dapat Apresiasi Besar usai Kasus MBG DIbongkar
Berdasarkan simulasi sementara, penggunaan menu telur tiga kali seminggu di SPPG Jawa Timur diperkirakan mampu memberikan efek stabilisasi harga sekitar 8–10 persen.
“Kebijakan dari BGN sementara seminggu tiga kali menu telur, dan simulasinya alhamdulillah, 8-10% kita bisa intervensi untuk stabilisasi harga yang anjlok,” jelasnya.
Selain menyasar peserta didik, SPPG juga diwajibkan melayani kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dengan minimal 300 porsi. Telur dinilai menjadi sumber protein penting dalam penyusunan menu bergizi bagi kelompok tersebut.
Pada tahap lanjutan, Pemprov Jawa Timur dan BGN akan memetakan distribusi SPPG dan koperasi peternak agar rantai pasok lebih efisien, dengan prioritas pada koperasi terdekat untuk menjaga kualitas dan pemerataan penyerapan produksi.
