Eks Menkeu Sri Mulyani: Disiplin Fiskal Saja Tak Akan Cukup!
Mantan Menteri Keuangan, RI Sri Mulyani Indrawati, menilai reformasi struktural menjadi faktor krusial dalam menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa Indonesia secara konsisten mempertahankan defisit anggaran di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta rasio utang di bawah 60% terhadap PDB sejak pasca krisis finansial Asia. Kebijakan tersebut dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Banyak negara telah meninggalkan batasan ini, tetapi pengalaman sejarah menunjukkan bahwa negara yang mengabaikan disiplin fiskal pada akhirnya menghadapi kesulitan,” kata Sri Mulyani dalam acara Oxford Policy Pod, dikutip Rabu (25/2/2026).
Baca Juga : Begini Respons Prabowo Soal Harvard Tempatkan RI di Posisi Satu
Meski begitu, ia menegaskan bahwa disiplin fiskal hanyalah prasyarat dasar, bukan satu-satunya faktor penentu kemajuan ekonomi.
Menurutnya, pemerintah tetap perlu menjalankan reformasi struktural, seperti peningkatan daya saing, pembenahan sistem hukum, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.
Ia menambahkan, tanpa stabilitas makroekonomi dan kondisi fiskal yang sehat, suatu negara berisiko menghadapi krisis yang dapat menghambat pembangunan, pengurangan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Apakah mempertahankan disiplin fiskal itu sulit? Tentu saja. Setiap negara memiliki banyak tujuan, mulai dari pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hingga keamanan, sementara sumber daya selalu terbatas. Tantangan politiknya adalah bagaimana menjaga disiplin fiskal tanpa menghambat pencapaian berbagai tujuan tersebut,” ujar Sri Mulyani.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan analisis yang kuat (evidence-based policy). Pendekatan teknokratis yang kredibel dan transparan dalam penyusunan anggaran dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan reformasi dan pembangunan tetap berjalan.
“Saya selalu berupaya menjaga kepercayaan tersebut, terutama dalam penyusunan dan penyajian anggaran negara. Kepercayaan politik terhadap pengelolaan anggaran adalah pencapaian penting, karena di situlah berbagai kepentingan politik bertemu,” tegasnya.
Sri Mulyani menekankan bahwa keberlanjutan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka defisit dan utang, tetapi juga oleh kualitas kebijakan dan konsistensi reformasi. Disiplin fiskal yang terjaga perlu dibarengi dengan transformasi struktural agar mampu meningkatkan produktivitas dan daya tahan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Baca Juga : RI Masuk Daftar dalam 8 Perjanjian Dagang yang Dikunci USTR AS

[…] Eks Menkeu Sri Mulyani: Disiplin Fiskal Saja Tak Akan Cukup! […]
[…] Eks Menkeu Sri Mulyani: Disiplin Fiskal Saja Tak Akan Cukup! […]