Insiden Keracunan MBG Kembali Terjadi, FSGI Soroti Lemahnya Pengawasan
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyoroti peningkatan kasus keracunan makanan pada anak yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Umum FSGI Fahriza Marta Tanjung menyebut tren tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dalam waktu singkat.
“Ada kenaikan signifikan korban keracunan MBG,” tutur Fahriza dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Baca Juga: Purbaya Ungkap Risiko Harga BBM Tak Naik, Anggaran Subsidi tembus Rp100 T
Kasus Keracunan MBG Meningkat Signifikan
Fahriza menjelaskan, berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah korban keracunan pada Februari 2026 mencapai 1.920 orang.
Angka tersebut memang turun 32,2 persen dibandingkan Januari yang mencapai 2.835 orang, namun secara kumulatif tetap menunjukkan tren peningkatan.
Total korban pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 4.755 orang, dengan rata-rata 2.377,5 korban per bulan.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 tercatat 20.012 korban atau rata-rata 1.667,7 orang per bulan.
Menurut dia, kondisi ini mengkhawatirkan karena terjadi kenaikan rata-rata bulanan hingga 42,56 persen.
“Ini bukan kenaikan kecil. Artinya, dalam waktu yang lebih singkat, jumlah korban justru bertambah lebih cepat,” ujar Fahriza.
Ia mengingatkan bahwa program MBG menyasar kelompok rentan seperti siswa, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Jika kasus keracunan terjadi berulang dan melibatkan ribuan orang, berarti ada persoalan dalam pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, atau distribusi,” tegas dia.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Tabungan Negara Rp420 T, APBN Aman!
BGN Perketat Pengawasan dan Minta Maaf
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan akan melakukan pembenahan untuk mencegah kasus serupa terulang.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang memastikan pengawasan akan diperketat.
“BGN memastikan akan memperketat pengawasan guna mencegah kejadian serupa terulang dan menjamin keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG,” ungkap Nanik.
BGN juga menyampaikan permohonan maaf atas kasus yang menimpa 72 siswa sekolah dasar di Duren Sawit, Jakarta Timur.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Kami juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” lanjut dia.
Sebagai langkah lanjutan, BGN menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa.
“SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), masih belum memenuhi standar,” pungkas dia.
