Iran Klaim Selat Hormuz Ditutup, Lima Kapal Tanker Diserang
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Selat Hormuz telah “ditutup” di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Sejak Jumat (16/10/2026), lima kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut dan perairan sekitarnya.
Dikutip dari Al Jazeera, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan salah satu kapal tanker terkena serangan granat berpeluncur roket atau rocket-propelled grenade (RPG) yang ditembakkan dari sebuah kapal kecil.
Baca Juga: Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Ratusan Orang Ditangkap
UKMTO juga menyebut sejumlah pria bersenjata menembaki kapal tanker kelima di lepas pantai Al Mukalla, Yaman.
Sementara itu, The Jerusalem Post melaporkan IRGC pada Sabtu (17/10/2026) mengklaim dua kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau laut saat melintasi Selat Hormuz.
Klaim tersebut diberitakan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, yang menyebut kedua kapal tanker itu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada konfirmasi independen yang memverifikasi klaim mengenai dua kapal tanker yang terbakar akibat ranjau laut tersebut.
Di tengah situasi itu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan empat pesawat nirawak di atas Riyadh serta wilayah timur dan selatan Arab Saudi.
Yaman Soroti Dukungan Militer Iran kepada Houthi
Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah Abdulaziz al-Zuba, menilai dukungan militer dan teknis Iran kepada kelompok Houthi berkaitan erat dengan berlanjutnya konflik di Yaman.
Ia mengatakan dukungan tersebut juga menjadikan wilayah Yaman sebagai landasan untuk mengancam keamanan regional.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan ke-52 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Baghdad, Irak, pada Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga: BEI Turunkan Batas ARB Saham Jadi 7 Persen hingga Akhir 2026
Al-Zuba menyebut Iran telah menawarkan diri untuk menengahi penyelesaian konflik, tetapi pada saat yang sama dituding memasok senjata kepada kelompok Houthi.
Menurut dia, persenjataan tersebut digunakan untuk melakukan serangan yang menimbulkan korban dan kerusakan.
“Aksi terorisme kelompok-kelompok milisi ini, dengan persenjataan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) dari Iran, mengancam keamanan seluruh kawasan kita,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menambah ketegangan diplomatik terkait peran Iran dalam konflik Yaman, sementara laporan serangan terhadap kapal tanker dan klaim penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di kawasan Timur Tengah.
