Trump Telepon Netanyahu, Israel Hentikan Serangan ke Iran
Israel disebut menghentikan serangan ke Iran setelah adanya permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meredakan eskalasi konflik antara kedua negara.
Laporan tersebut muncul di tengah kembali memanasnya situasi setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan pertama sejak gencatan senjata yang berlaku pada April lalu.
Media Israel Channel 12, seperti dikutip Al Jazeera, melaporkan bahwa seorang pejabat senior Israel menyebut Tel Aviv menghentikan serangan ke Iran atas permintaan Trump. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Baca Juga: Iran Diancam Netanyahu: Serangan Balasan Akan Lebih Besar
Trump Desak Penghentian Perang Lewat Netanyahu
Sejumlah laporan menyebut adanya komunikasi langsung antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah meningkatnya ketegangan.
Menurut Anadolu, keduanya melakukan percakapan melalui telepon pada Senin (8/6/2026), tak lama sebelum Iran mengumumkan penghentian serangan ke Israel.
Sementara itu, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel juga telah menyampaikan pesan kepada Iran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan jika Teheran berhenti melanjutkan pertempuran.
Di sisi lain, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan percakapan Netanyahu dan Trump maupun keputusan penghentian serangan tersebut.
Sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social telah menyerukan agar kedua negara segera menghentikan eskalasi.
“Israel dan Iran harus segera berhenti ‘menembak.’ Presiden DONALD J TRUMP,” tulis Trump.
Tak lama setelah itu, ia kembali menegaskan bahwa proses “negosiasi akhir” menuju perdamaian sedang berlangsung, meski dengan syarat tidak boleh ada hambatan berupa “kebodohan atau ketidaktahuan”.
Baca Juga: Israel Dihujani Iran 30 Rudal, Konflik Kembali Memanas
Iran Hentikan Operasi, Situasi Masih Tegang
Dari sisi Iran, AFP melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan operasi militernya terhadap Israel setelah melakukan serangan balasan sejak pecahnya eskalasi terbaru.
Komando militer Iran menyebut penghentian operasi dilakukan setelah memberikan “respons yang menyakitkan”, namun memperingatkan bahwa tindakan agresi berikutnya akan dibalas lebih keras.
“Jika tindakan agresi dan permusuhan berlanjut, termasuk di Lebanon selatan, langkah yang jauh lebih berat dan menghancurkan daripada sebelumnya akan dilakukan,” demikian peringatan Iran.
Sebelumnya, Iran meluncurkan puluhan rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah di selatan Beirut, yang kemudian dibalas dengan gelombang serangan udara ke wilayah Iran.
Meski serangan disebut berhenti sementara, situasi di kawasan masih jauh dari stabil. Militer Israel mengklaim telah menghancurkan sejumlah sistem pertahanan Iran, sementara seorang pejabat Israel menyebut Iran telah menembakkan hampir 30 rudal sejak Minggu malam.
Di tengah ketegangan itu, seorang sumber militer Iran kepada kantor berita Tasnim menyatakan kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan.
“Iran siap menghadapi perang jangka panjang dengan rezim Zionis dan melakukan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan,” kata sumber tersebut.
Ketegangan juga berdampak pada pasar energi global, dengan harga minyak naik lebih dari lima persen akibat kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz.
Meski demikian, jalur diplomasi masih terbuka. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut Teheran masih berada “di meja perundingan”, sementara Uni Eropa menyerukan kedua pihak kembali ke negosiasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan.
