Purbaya Akui Sejak Awal Tahun Ekonomi RI Hadapi Berbagai Cobaan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tekanan sejak awal tahun, mulai dari penyesuaian pembobotan saham oleh MSCI hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (6/5/2026), di mana ia menilai kondisi global memberi tantangan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta stabilitas ekonomi nasional.
“Tekanan yang kita alami bertubi-tubi di awal tahun, ada MSCI, ada lembaga pemeringkat. Sekarang udah tenang ada perang di Timur Tengah. Ini tantangan yang signifikan bagi APBN dan perekonomian kita,” terang Purbaya.
Baca Juga: RI Sudah Produksi dan Kirim Mobil Etanol ke Brasil Diam-diam? Ini Kata Mentan
Meski menghadapi tekanan tersebut, Purbaya menyebut pemerintah mampu menjaga stabilitas, salah satunya melalui pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang tetap terjaga.
Ia juga menyoroti kinerja sektor industri yang masih menunjukkan ekspansi selama delapan bulan berturut-turut, meskipun sempat terdampak konflik global.
“PMI (purchasing managers’ index) turun sedikit akibat dari perang,” kata dia.
Purbaya pun optimistis indikator tersebut akan segera pulih dalam waktu dekat, seiring kondisi ekonomi yang dinilai masih cukup kuat.
Di sisi lain, ia memastikan tingkat inflasi nasional tetap terkendali.
“Ini ada dampak diskon listrik tahun lalu yang tidak dikeluarkan oleh BPS, tapi kalau kita keluarkan inflasi Maret hanya 2,51%, jadi relatif terkendali,” lanjut dia.
Menurutnya, kondisi tersebut memberikan ruang bagi perekonomian Indonesia untuk terus tumbuh tanpa tekanan harga yang berlebihan.
Ia juga menambahkan bahwa sektor eksternal Indonesia masih berada dalam kondisi solid, dengan cadangan devisa yang dinilai memadai.
“Sektor eksternal solid, cadangan devisa memadai setara 5,9 bulan impor, pembayaran ULN sekitar 3 bulan,” tutur Purbaya.
Baca Juga: Stok Beras Tertinggi dalam Sejarah Diungkap Mentan Amran usai Tinjau Gudang Bulog
Selain itu, pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 20,7 persen dinilai menjadi indikator positif bagi aktivitas usaha di dalam negeri.
“Ini mengindikasikan aktivitas usaha yang kondusif,” pungkas dia.
