Purbaya Ungkap Kondisi Ekonomi RI yang Sebenarnya di Depan DPR
Meski tekanan ekonomi global terus menguat seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, pemerintah Indonesia menyatakan belum menemukan tanda-tanda dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian domestik.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (6/4/2026). Ia justru memaparkan deretan indikator yang mencerminkan fondasi ekonomi Indonesia masih kokoh, dan berada di jalur pemulihan yang semakin menguat.
“Di tengah ketidakpastian global, di tengah eskalasi ekonomi dunia, stabilitas tetap terjaga,” ucap Purbaya di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Baca Juga : Di Tengah Ketegangan, Iran Izinkan Kapal Logistik Lewat Selat Hormuz!
Sejumlah indikator makroekonomi menjadi dasar optimisme pemerintah. Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia per Maret 2026 masih bertahan di zona ekspansif pada level 50,1 di mana angka di atas 50 menandakan aktivitas industri yang sedang berkembang.
Dari sisi harga, inflasi tercatat masih terkendali di angka 3,48 persen hingga Maret 2026. Sementara itu, uang beredar atau M0 tumbuh signifikan hingga 19,2 persen pada pekan ketiga Maret 2026, dan pertumbuhan kredit mencapai 9,4 persen per Februari 2026 yang didorong kredit investasi yang melonjak 20,7 persen secara tahunan.
Ketahanan eksternal Indonesia juga tergambar dari surplus neraca perdagangan yang telah bertahan selama 70 bulan berturut-turut, dengan realisasi terbaru mencapai US$1,3 miliar. Kondisi ini turut mendorong cadangan devisa nasional naik ke level US$151,9 miliar.
Di sisi konsumsi, tren positif juga terlihat dari Mandiri Spending Index (MSI) yang naik ke level 360,7 per Februari 2026. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) yang mencerminkan penjualan sektor riil turut mencatatkan kenaikan sebesar 6,9 persen pada periode yang sama.
Baca Juga : Kapal Irak Bebas Melintasi Hormuz di Tengah Blokade Iran
Penjualan barang tahan lama pun menunjukkan pertumbuhan solid. Penjualan mobil tumbuh 12,2 persen secara tahunan per Februari 2026, sementara penjualan semen masih mampu tumbuh 5,3 persen.
“Artinya memang ada perbaikan daya beli, motor juga sempat naik tinggi walau agak turun di Februari tapi kita lihat masih tumbuh positif, dan mungkin sebagian pembeli motor udah kaya sekarang, jadi shift, jadi beli mobil lebih banyak,” paparnya.
