Setelah Hormuz, Iran Ancam Tutup Jalur Strategis Perdagangan Lain
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah sekutu Iran mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb, menyusul langkah Teheran yang sebelumnya melumpuhkan Selat Hormuz.
Ancaman tersebut disampaikan penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, yang juga mantan Menteri Luar Negeri Iran, melalui media sosial.
“Komando terpadu garis depan Perlawanan memandang Bab al-Mandeb sama seperti memandang Hormuz. Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan konyolnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu gerakan,” tulis Velayati.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menyerang infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka.
Letak strategis Bab al-Mandeb
Secara geografis, Bab al-Mandeb berada di antara Yaman, Djibouti, dan Eritrea, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden hingga ke Samudra Hindia.
Selat ini memiliki lebar sekitar 29 kilometer di titik tersempitnya, sehingga jalur pelayaran sangat terbatas.
Wilayah tersebut juga berada di bawah pengaruh kelompok Houthi yang didukung Iran dan menjadi bagian penting dari poros kekuatan regional Teheran.
Baca Juga: Semua Serangan AS Dipastikan Akan Dibalas Iran, Tensi Memanas!
Peran vital dalam perdagangan energi global
Pentingnya Bab al-Mandeb meningkat tajam sejak gangguan di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Sekitar 25 persen pasokan minyak dan gas global berpotensi terhambat jika kedua jalur tersebut ditutup secara bersamaan.
Selain energi, sekitar 10 persen perdagangan global, termasuk pengiriman kontainer dari Asia ke Eropa, juga bergantung pada jalur ini.
Arab Saudi bahkan telah mengalihkan ekspor minyaknya melalui jalur alternatif untuk menghindari dampak gangguan di Hormuz.
Potensi blokade oleh sekutu Iran
Kemampuan untuk mengganggu jalur ini dinilai bukan hal baru bagi kelompok Houthi.
Mantan diplomat AS, Nabeel Khoury, menyebut serangan yang terjadi saat ini masih bersifat peringatan.
“Mereka telah menembakkan beberapa rudal sebagai peringatan karena adanya pembicaraan tentang potensi eskalasi. Ada pasukan AS yang sedang menuju ke wilayah tersebut. Ada pembicaraan bahwa jika tidak ada kesepakatan, mungkin akan terjadi serangan skala penuh terhadap Iran yang belum pernah terlihat sejauh ini,” kata Khoury.
Ia menambahkan bahwa langkah paling signifikan adalah dengan memblokade jalur pelayaran.
“Yang perlu mereka lakukan hanyalah menembaki beberapa kapal yang lewat, dan itu akan menyebabkan penghentian seluruh pelayaran komersial melalui Laut Merah. Itu akan menjadi garis merah, dan kemudian Anda akan melihat serangan terhadap Yaman dari AS dan Israel dengan sangat cepat,” ujarnya.
Baca Juga: Airlangga Buka Suara soal Harga BBM Non Subsidi, Ini Nasibnya
Dampak besar bagi ekonomi dunia
Para ahli memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi krisis ekonomi serius jika ancaman ini benar-benar terjadi.
Spesialis Timur Tengah dari Universitas Cambridge, Elisabeth Kendall, menyebut situasi ini sangat genting.
“Sebab jika Anda memiliki pembatasan di Selat Hormuz pada saat yang sama dengan eskalasi pembatasan di Bab al-Mandeb, maka Anda benar-benar akan mengganggu, jika tidak melumpuhkan, perdagangan menuju Eropa. Jadi ini benar-benar berada di ujung tanduk, tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya,” kata Kendall.
Ia menambahkan, dampak blokade tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga akan menjalar ke aktivitas ekonomi sehari-hari di berbagai negara.
