Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Ada Kesepakatan Besar
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran pada Kamis (11/6/2026). Dalam pernyataannya, Trump juga mengklaim bahwa Washington telah mencapai kesepakatan besar dengan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial saat upacara pembukaan Piala Dunia 2026 berlangsung di Meksiko. Pengumuman tersebut langsung memicu reli pasar saham global dan membuat harga minyak dunia turun tajam karena muncul harapan normalisasi ekspor energi dari kawasan Teluk.
Baca Juga : Batal Jadi Ibu Kota, Anggaran IKN Naik di 2027?
“Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini,” tulis Trump, dikutip dari AFP.
Politisi Partai Republik itu juga mengeklaim poin-poin penting dalam kesepakatan telah disetujui oleh Amerika Serikat dan sekutu regionalnya, termasuk Israel.
“Waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan,” ujarnya.
Respons Dingin Iran
Meski Trump menyampaikan optimisme tinggi, pemerintah Iran menunjukkan respons yang jauh lebih hati-hati.
Kantor berita Fars melaporkan bahwa sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran menyatakan belum ada teks nota kesepahaman pendahuluan yang disetujui bersama Amerika Serikat.
Sementara itu, kantor berita Tasnim meminta publik untuk tidak langsung mempercayai klaim Trump. Media tersebut mencatat Trump sudah beberapa kali mengumumkan pernyataan serupa dalam dua bulan terakhir.
“Sampai Iran mengumumkan potensi kesepahaman, setiap berita dari Trump tentang masalah ini harus dianggap sama dengan pesan-pesan sebelumnya,” tulis Tasnim.
Iran Beri Peringatan Keras ke AS
Sebelum unggahan Trump muncul, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, lebih dulu melontarkan peringatan keras kepada Washington.
“Strategi yang salah dan keputusan impulsif akan memperburuk keadaan, menghancurkan infrastruktur dan pasar energi, serta menciptakan rawa tak berujung yang akan membuat Anda terjebak selama bertahun-tahun,” tegas Ghalibaf.
Peringatan serupa juga disampaikan Jenderal Ali Abdollahi, kepala markas besar militer Iran. Ia mengancam akan memberikan respons yang lebih besar apabila Amerika Serikat tetap melancarkan serangan.
“Kobaran api perang, selain menciptakan ketidakamanan di kawasan, akan menjadi lebih luas dan berdampak jauh,” ujarnya.
Pakistan dan Qatar Masih Lakukan Mediasi
Hingga kini, mediator dari Pakistan dan Qatar masih terus melakukan jalur diplomasi belakang layar guna mengakhiri konflik Iran melawan AS dan Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026.
Baca Juga : Kepala BGN Datangi Prabowo Bawa Kabar Efisiensi MBG
Namun, pemerintah Pakistan mengakui situasi saat ini membuat peluang perdamaian masih sulit diprediksi.
Di sisi lain, China sebagai pembeli minyak terbesar Iran turut mendesak semua pihak agar segera menahan diri dan menghentikan eskalasi militer.
“Kami mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan operasi militer… (dan) menanggapi upaya mediasi,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
