Serangan Kapal di Selat Hormuz Pecahkan Rekor, 12 Kapal Diserang dalam Sepekan
Jumlah kapal yang melaporkan serangan di sekitar Selat Hormuz mencapai rekor tertinggi sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026.
Berdasarkan analisis BBC Verify terhadap data lembaga keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), sebanyak 12 kapal dilaporkan mengalami serangan pada periode 5-11 Oktober 2026.
Jumlah tersebut melampaui 10 laporan serangan pada pekan sebelumnya dan menjadi angka tertinggi dalam satu pekan sejak perang dimulai.
Dilansir dari BBC, Jumat (16/10/2026), enam kapal dilaporkan diserang hanya dalam sehari pada Minggu (11/10/2026), menjadi angka harian tertinggi yang tercatat UKMTO.
Peningkatan serangan terjadi ketika pengiriman minyak melalui salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu kembali menurun.
Para analis menilai Iran meningkatkan serangan untuk mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, sementara militer AS semakin banyak mengawal kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi Cegat Rudal di Madinah, Houthi Membantah
Serangan Kapal Meluas hingga Perairan Oman, Qatar, dan UEA
BBC Verify menghimpun laporan insiden yang dipublikasikan UKMTO untuk memetakan perkembangan serangan terhadap kapal.
Namun, BBC menjelaskan bahwa waktu kejadian dalam pencatatan tersebut bersifat perkiraan karena sebagian laporan menggunakan tanggal serangan, sedangkan laporan lainnya menggunakan tanggal ketika insiden dilaporkan.
Militer AS telah meningkatkan pengawalan terhadap kapal tanker yang melintasi bagian selatan Selat Hormuz untuk menghindari serangan Iran.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer Amerika di Timur Tengah, menyatakan lalu lintas kapal komersial masih berlangsung meskipun serangan meningkat.
“Lalu lintas komersial terus berlangsung melalui Selat Hormuz dengan perlindungan terkoordinasi dari pasukan AS dan mitra regional,” demikian pernyataan CENTCOM di media sosial.
Namun, serangan tidak lagi terbatas di sekitar Selat Hormuz.
Menurut para pakar keamanan maritim, sejumlah kapal juga menjadi sasaran di perairan dekat Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Salah satu insiden terjadi pada Minggu (11/10/2026), ketika kapal tanker Petro Dolphin berbendera Nikaragua diserang di perairan Oman.
Menurut perusahaan intelijen maritim Vanguard, kapal tersebut terkena serangan drone di dekat kawasan labuh Sohar, lebih dari 250 kilometer dari Selat Hormuz.
Rekaman video yang telah diverifikasi memperlihatkan Petro Dolphin terbakar setelah serangan. Video tersebut direkam oleh awak kapal kecil yang berada di dekat lokasi kejadian.
Serikat pelaut India, Forward Seamen’s Union of India, mengatakan 11 awak kapal berkewarganegaraan India berhasil diselamatkan, sedangkan dua awak lainnya masih dinyatakan hilang.
Insiden lainnya terjadi pada Selasa (13/10/2026), ketika kapal kontainer GFS Pride tenggelam setelah terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya di Selat Hormuz.
Sebanyak 21 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian menerbitkan rekaman video yang tampaknya memperlihatkan kapal yang sama sedang tenggelam.
IRGC menyatakan kapal tersebut membawa 2.500 kontainer barang selundupan dan telah melewati jalur yang tidak diizinkan.
Namun, pernyataan tersebut belum menjadi konfirmasi independen mengenai muatan kapal maupun penyebab pasti insiden.
Serangan lainnya dilaporkan terjadi pada Kamis (8/10/2026), ketika sebuah kapal tanker terkena beberapa proyektil di perairan utara Qatar, lebih dari 500 kilometer dari Selat Hormuz.
Menurut Vanguard, insiden tersebut menyebabkan sejumlah korban, meskipun jumlah pastinya tidak disebutkan.
Pada Jumat (9/10/2026), kapal tanker lainnya diserang di dekat kota Al-Jazirah al-Hamra, UEA.
Rekaman video yang telah diverifikasi memperlihatkan awak kapal berlari di geladak sambil mengenakan jaket pelampung, sementara kepulan asap hitam membubung dari kapal tersebut.
Baca Juga: Ribuan Warga Kolombia Protes Kedutaan Israel di Yerusalem
Pengiriman Minyak Menurun, Iran Disebut Mengubah Strategi Serangan
Peningkatan serangan terhadap kapal bertepatan dengan perlambatan pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Berdasarkan data perusahaan intelijen perdagangan Kpler, sekitar 12,6 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada 13 Oktober 2026.
Jumlah tersebut turun dibandingkan sekitar 15 juta barel per hari pada akhir September 2026.
Sebelum perang, volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 17 juta barel per hari.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan arus pengiriman minyak yang sempat berlangsung pada September kembali menghadapi hambatan.
Data Angkatan Laut AS juga menunjukkan peningkatan jumlah kapal yang mendapatkan bantuan saat melintasi Selat Hormuz.
Dalam 10 hari pertama Oktober 2026, jumlah kapal yang memperoleh bantuan tersebut meningkat 85 persen dibandingkan periode yang sama pada Agustus.
Pengawalan militer menjadi salah satu faktor yang membantu memulihkan pengiriman minyak Timur Tengah hingga mendekati tingkat sebelum perang pada September.
Namun, peningkatan serangan belakangan ini kembali menghambat aktivitas pelayaran.
Sebagian besar minyak dari negara-negara Arab di kawasan Teluk saat ini diangkut menggunakan sistem pengiriman bertahap atau shuttle.
Dalam sistem tersebut, kapal tanker mengangkut minyak melalui Selat Hormuz sebelum memindahkan muatannya ke kapal tanker berukuran lebih besar di Teluk Oman.
Kapal-kapal tersebut menggunakan jalur yang dekat dengan garis pantai Oman.
Iran menyatakan jalur itu tidak diizinkan dan meminta kapal-kapal menggunakan rute alternatif yang lebih dekat dengan wilayah pesisirnya.
Di sisi lain, ekspor minyak Iran dilaporkan telah terhenti sepenuhnya akibat blokade AS terhadap pelabuhan dan kapal Iran.
Martin Kelly, CEO perusahaan intelijen Orbital Risk Intelligence, menilai Iran telah mengubah strategi militernya untuk merespons peningkatan pengawalan kapal oleh AS.
Menurut Kelly, Iran kini melancarkan serangan hampir setiap hari, bahkan beberapa kali dalam sehari.
“Tujuannya adalah menghentikan kapal-kapal yang melintas dan mencegah kapal lain melakukan hal yang sama,” kata Kelly kepada BBC Verify.
Angkatan Laut IRGC sebelumnya juga menyatakan bahwa serangannya tidak akan terbatas pada Selat Hormuz.
Melalui media pemerintah Iran, IRGC kemudian mengumumkan pembentukan pola penempatan pasukan baru di kawasan tersebut.
Kelly mengatakan Iran kini memperluas jangkauan serangannya hingga perairan dekat negara-negara Arab di kawasan Teluk dan Teluk Oman.
Berbagai insiden tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap pelayaran komersial telah meluas ke luar kawasan Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya serangan, militer AS menyatakan akan terus memberikan perlindungan terkoordinasi bagi kapal-kapal komersial yang melintasi jalur tersebut.

[…] Serangan Kapal di Selat Hormuz Pecahkan Rekor, 12 Kapal Diserang dalam Sepekan […]