Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Pemilu AS, Ini 4 Opsi Militernya
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.
Pernyataan tersebut muncul ketika militer AS terus memperkuat kehadirannya di Timur Tengah, sementara konflik dengan Iran belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Dalam pertemuan Partai Republik pada September 2026, Trump bahkan mengatakan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir setelah pemilu.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (15/10/2026), sejumlah analis militer menilai Washington masih memiliki beberapa pilihan untuk menghadapi Teheran, mulai dari mempertahankan blokade laut hingga melancarkan operasi darat.
Namun, setiap opsi memiliki risiko militer, ekonomi, dan politik yang berbeda.
Perang AS-Iran Buntu, Selat Hormuz Jadi Persoalan Utama
Konflik terbaru antara AS dan Iran bermula ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah aset militer AS dan infrastruktur lainnya di negara-negara Teluk serta Yordania.
Teheran juga menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum perang dilalui sedikitnya 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Penutupan tersebut mengganggu perdagangan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak.
Harga minyak mentah acuan global yang berada di kisaran 72 dollar AS per barel menjelang perang sempat melonjak mendekati 120 dollar AS per barel pada 2026.
Pada Kamis (15/10/2026), harga minyak diperdagangkan sekitar 104 dollar AS per barel.
Kesepakatan gencatan senjata pada Juni 2026 kemudian gagal dipertahankan akibat perbedaan pendapat mengenai penguasaan Selat Hormuz.
Sejak itu, AS mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di wilayah selatan, sedangkan Iran terus menyerang kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tersebut.
Perundingan tidak langsung melalui Pakistan dan Qatar masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan baru.
Trump juga menolak tawaran terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz pada September 2026.
Afzal Ashraf, peneliti hubungan internasional dan keamanan di Loughborough University, Inggris, menilai keunggulan militer AS belum berhasil menghasilkan tujuan yang diinginkan Washington.
Menurut Ashraf, AS mempunyai kemampuan militer yang sangat besar dan tidak dapat ditandingi Iran, tetapi kekuatan tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan.
Di tengah kebuntuan tersebut, AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Menurut Al Jazeera, sedikitnya tiga gugus tempur kapal induk AS telah berada di kawasan Teluk atau sedang menuju wilayah tersebut, termasuk gugus tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt.
Kapal induk tersebut membawa sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 personel Marinir AS.
Washington juga memiliki sekitar 50.000 tentara yang ditempatkan di berbagai pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
Meski memiliki kekuatan besar, para analis menilai penambahan pasukan tidak otomatis menjamin keberhasilan operasi militer terhadap Iran.
Baca Juga: Greenland Jadi Strategis bagi AS, Ini Potensi dan Alasannya
Empat Opsi Militer AS untuk Menghadapi Iran
1. Mempertahankan blokade laut dan menekan Iran
Salah satu pilihan Trump adalah mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sekaligus melanjutkan pengawalan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Patrick Bury, profesor madya senior di University of Bath sekaligus mantan analis riset NATO, menilai langkah tersebut merupakan pilihan yang paling mungkin diteruskan Washington.
Sebelum perang, sekitar 125 kapal komersial besar melintasi Selat Hormuz setiap hari dengan rata-rata pengangkutan 17,1 juta barel minyak.
Namun, aktivitas pelayaran menurun drastis setelah Iran menutup jalur tersebut pada Maret 2026.
Dengan bantuan pengawalan Angkatan Laut AS, arus minyak dari negara-negara Teluk selain Iran melalui Selat Hormuz sempat pulih hingga lebih dari 81 persen dari tingkat sebelum perang pada September, menurut data perusahaan pemantau maritim Kpler.
Peningkatan serangan Iran dalam beberapa pekan terakhir kembali menekan aktivitas pelayaran.
Pada 11 Oktober 2026, hanya sekitar 2,9 juta barel minyak yang diangkut melalui jalur tersebut, angka terendah sepanjang bulan itu menurut Kpler.
Bury menjelaskan bahwa AS berusaha mempertahankan patroli dan pengawasan di bagian barat daya Selat Hormuz untuk melindungi kapal-kapal yang melintas.
Namun, kedekatan geografis Iran dengan selat tersebut memberikan keuntungan bagi Teheran dalam menghadapi kekuatan militer AS.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat 15 serangan terhadap kapal antara 6 dan 14 Oktober 2026.
2. Melanjutkan serangan udara dan rudal
Trump juga dapat kembali memerintahkan serangan udara dan rudal terhadap sasaran militer di Iran.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa peningkatan pengeboman setelah pemilu merupakan salah satu kemungkinan, meskipun belum menjelaskan bentuk operasi yang akan dilakukan.
Bury memperkirakan AS kemungkinan melancarkan serangan terbatas terhadap sejumlah sasaran di pesisir Iran dan wilayah yang lebih jauh ke daratan jika konflik kembali meningkat.
Namun, Ashraf memperingatkan bahwa serangan udara baru belum tentu menghasilkan dampak sebesar serangan sebelumnya karena Iran telah menyesuaikan diri dengan serangan militer AS.
“Mereka memiliki lebih sedikit persenjataan, tetapi dapat menyembunyikannya dengan lebih baik,” kata Ashraf.
Selain persoalan efektivitas, biaya operasi juga menjadi tantangan bagi Washington.
Ashraf menjelaskan bahwa drone atau rudal Iran yang relatif murah dapat memaksa AS menggunakan rudal pencegat dengan harga satu juta dollar AS atau lebih.
“Amerika Serikat mulai kehabisan rudal untuk pertahanannya sendiri,” ujarnya.
Sepanjang perang, AS dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk ke Iran.
Menurut perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), pemulihan seluruh persediaan Tomahawk AS ke tingkat sebelum perang dapat membutuhkan waktu hingga akhir 2030.
Bury memperkirakan pemulihan sejumlah persenjataan utama membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun.
Iran juga memperingatkan akan memberikan respons lebih besar jika serangan AS kembali meningkat.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada September 2026 menyatakan bahwa masa ketika Teheran hanya memberikan balasan sebanding telah berakhir.
Ashraf menilai serangan baru juga berpotensi memengaruhi akses militer AS ke sejumlah pangkalan di kawasan Teluk.
3. Menggelar operasi darat terbatas di Pulau Kharg
Pilihan berikutnya adalah operasi darat terbatas terhadap wilayah strategis Iran, salah satunya Pulau Kharg yang terletak sekitar 26 kilometer dari pesisir negara tersebut.
Pulau Kharg menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran sehingga memiliki peran penting bagi perekonomian Teheran.
Mantan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Joseph Votel, sebelumnya mengatakan bahwa sekitar 800 hingga 1.000 tentara dapat digunakan untuk merebut pulau tersebut.
Namun, pasukan AS yang ditempatkan di Kharg berisiko menjadi sasaran serangan dari daratan utama Iran.
Ashraf mengatakan AS secara militer dapat melancarkan operasi terbatas, kemungkinan dengan terlebih dahulu menggunakan peperangan elektronik untuk mengganggu sistem pertahanan Iran.
Meski demikian, ia memperingatkan bahwa pasukan AS akan menghadapi risiko besar setelah menguasai pulau tersebut.
“Mereka tidak membutuhkan banyak informasi mengenai sasaran begitu mengetahui pulau itu diduduki pasukan Amerika,” kata Ashraf.
Ia juga menilai Washington harus mempertimbangkan kemungkinan jatuhnya korban di pihak AS dalam perang yang sudah tidak populer di kalangan masyarakat Amerika.
Selain menyerang pasukan AS, Iran berpotensi membalas dengan menargetkan infrastruktur minyak di berbagai negara Teluk.
Karena risiko tersebut, Ashraf menilai perebutan Pulau Kharg sebagai pilihan yang sangat tidak rasional.
Baca Juga: Kesepakatan Trump-Rusia Tak Cukup Turunkan Harga Diesel Dunia
4. Melancarkan invasi besar-besaran ke Iran
Invasi darat berskala besar juga menjadi salah satu skenario yang dibahas, meskipun para analis menilai kemungkinan AS melancarkan invasi penuh ke Iran sangat kecil.
Trump sebelumnya cenderung mengesampingkan operasi darat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan pada Maret 2026 bahwa pengerahan pasukan darat tidak diperlukan untuk mencapai tujuan pemerintahan Trump.
Bury meragukan Washington akan mengambil langkah tersebut.
“Saya rasa mereka tidak akan melakukannya. Terus terang, saya juga tidak yakin mereka mampu melakukannya,” kata Bury.
Menurut para analis, operasi darat menghadapi tantangan berbeda dibandingkan serangan udara maupun blokade laut.
Dengan demikian, keberadaan puluhan ribu tentara AS di Timur Tengah tidak berarti Washington telah memutuskan untuk melancarkan invasi.
Pemilu AS Jadi Pertimbangan di Tengah Perang Iran
Pilihan militer Trump juga berkaitan dengan situasi politik dalam negeri AS.
Pemilu paruh waktu dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026, ketika perang Iran menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian masyarakat.
Menurut survei Pew Research Center yang dikutip Al Jazeera, sekitar 65 persen warga AS tidak menyetujui cara Trump menangani perang tersebut.
Di tengah situasi itu, Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu berlangsung.
Namun, penambahan kekuatan militer AS di Timur Tengah menunjukkan bahwa Washington tetap mempertahankan berbagai pilihan operasi militer.
Bury menilai persoalan yang lebih besar adalah seberapa cepat AS dapat memulihkan kemampuan militernya setelah menggunakan banyak persenjataan selama perang.
“Dapatkah Amerika dalam beberapa tahun ke depan membangun kembali kekuatannya sebagai kekuatan militer?” ujarnya.
Menurut Bury, proses pemulihan tersebut dapat berlangsung lebih lama daripada sisa masa jabatan Trump.
Sementara itu, Ashraf memperingatkan bahwa perang berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan politik di Timur Tengah.
Di sisi Iran, pejabat keamanan Mohsen Rezaei mengatakan pada Minggu (11/10/2026) bahwa Teheran telah menyerang kapal-kapal dalam konvoi yang didukung AS di Selat Hormuz setiap malam selama beberapa pekan.
“Kalian melakukan penyelundupan, tetapi selat ini berada di bawah kendali Iran,” kata Rezaei.
Pernyataan tersebut mencerminkan perbedaan sikap Washington dan Teheran mengenai penguasaan Selat Hormuz, yang hingga kini masih menjadi salah satu hambatan utama penyelesaian konflik.
