Mengenal Mother of All Bombs, Bom Non-Nuklir AS Seberat 9,8 Ton
Amerika Serikat (AS) dilaporkan mempertimbangkan penggunaan bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan militernya untuk menyerang fasilitas nuklir Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi militer.
Diketahui, senjata yang dipertimbangkan adalah GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB), yang dikenal dengan julukan Mother of All Bombs atau “Ibu dari Segala Bom”.
Meski memiliki daya ledak besar, sejumlah pakar mempertanyakan efektivitas bom tersebut untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah.
Pakar militer yang berbasis di Brussels, Elijah Magnier, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penggunaan MOAB berisiko meningkatkan eskalasi konflik tanpa memberikan keuntungan strategis yang berarti bagi Washington.
Baca Juga: MSCI Berencana Turunkan Status Pasar Saham RI ke Standalone
1. Mengenal Mother of All Bombs dan Daya Hancurnya
MOAB merupakan bom non-nuklir berukuran besar yang dikembangkan Amerika Serikat pada 2002-2003.
Bom ini memiliki bobot sekitar 9.800 kilogram, panjang lebih dari sembilan meter, serta membawa sekitar 8.500 kilogram bahan peledak berkekuatan tinggi.
Karena ukurannya, MOAB biasanya dijatuhkan menggunakan pesawat angkut Lockheed C-130 Hercules, bukan pesawat pengebom siluman.
Julukan Mother of All Bombs merujuk pada istilah “ibu dari segala pertempuran” yang pernah digunakan mantan Presiden Irak Saddam Hussein selama Perang Teluk pada 1991.
AS tercatat baru satu kali menggunakan MOAB dalam pertempuran, yakni saat menyerang kompleks gua dan terowongan kelompok Islamic State Khorasan Province (ISKP) di Afghanistan pada 2017.
Otoritas Afghanistan menyebut serangan tersebut menewaskan 94 anggota ISKP tanpa menimbulkan korban sipil. Namun, laporan lokal yang belum terkonfirmasi menyebutkan kemungkinan adanya korban sipil dan kerusakan rumah.
MOAB dirancang untuk meledak sedikit di atas permukaan tanah sehingga menghasilkan gelombang ledakan berkekuatan besar.
Ledakannya mampu menghancurkan bangunan, posisi pasukan, pintu masuk gua, serta berbagai struktur di permukaan tanah.
“Tujuannya adalah untuk menghasilkan ledakan yang sangat dahsyat di suatu area permukaan,” kata Magnier.
Pakar militer Kolonel Nidal Abu Zeid menyebut dampak ledakan MOAB dapat menjangkau radius sekitar satu kilometer, meskipun tingkat kerusakannya bergantung pada kondisi medan dan lingkungan di sekitar lokasi serangan.
Namun, MOAB bukan senjata yang secara khusus dirancang untuk menembus lapisan beton tebal atau batuan pegunungan.
Karena itu, efektivitasnya untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran, termasuk Fordow dan kompleks yang sedang dibangun di Pickaxe Mountain, masih dipertanyakan.
Berbeda dengan MOAB, AS memiliki GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, bom penghancur bungker berbobot sekitar 13.600 kilogram yang dirancang menembus hingga 61 meter ke bawah tanah sebelum meledak.
Baca Juga: Media Asing Sorot Ancaman Downgrade Pasar Saham RI
2. Mengapa Penggunaan MOAB di Iran Berisiko?
Selain kemampuan penetrasinya yang terbatas, penggunaan MOAB di Iran menghadapi kendala operasional.
Menurut Magnier, pesawat pengangkut yang membawa bom tersebut berpotensi kesulitan menjangkau wilayah Iran yang memiliki pertahanan kuat.
Di sisi lain, pesawat pengebom siluman yang lebih sesuai untuk operasi militer semacam itu tidak mampu membawa MOAB.
Magnier juga mempertanyakan manfaat politik dari serangan yang mungkin hanya menghancurkan infrastruktur tanpa memaksa Iran memberikan konsesi kepada Washington.
“Jika jawabannya berpusat pada pertunjukan ledakan yang dahsyat, maka usulan tersebut lebih tepat disebut sebagai teater politik daripada strategi militer,” ujar Magnier.
CNN melaporkan bahwa Trump tengah mencari penyelesaian perang yang bersifat definitif dan dapat menunjukkan bahwa Washington tidak mengalami kekalahan.
Namun, penggunaan MOAB berpotensi memicu pembalasan Iran, termasuk terhadap negara-negara tetangga yang menampung aset militer AS.
Pada Mei, Kuwait menuduh personel Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyusup ke Pulau Bubiyan hingga memicu baku tembak. Seorang anggota pasukan Kuwait terluka, sedangkan empat tentara Iran ditangkap.
Teheran membantah melakukan penyerbuan dan menyatakan sistem navigasi pasukannya mengalami kerusakan.
Penasihat keamanan IRGC, Mohammad Reza Naghdi, juga memperingatkan kemungkinan penangkapan tentara AS apabila Washington melancarkan operasi darat.
Sementara itu, kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengancam akan menyerang infrastruktur digital regional jika AS kembali menggempur negaranya.
Sasaran yang disebut mencakup kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan di Uni Emirat Arab serta negara-negara lainnya.
Dengan berbagai ancaman tersebut, penggunaan MOAB berisiko memperluas konflik di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, kemampuan bom itu untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah belum dapat dipastikan.
